Thursday, May 4, 2017

Tak Ada Halangan untuk Single Parent



Aku mengantarkan anak-anakku ke masjid sejak mereka berusia antara sepuluh hingga dua belas tahun. Hal ini kulakukan dengan cara memaksa mereka berulang kali untuk shalat di masji, bahkan memaksa mereka untuk pergi ke masjid tanpa banyak menunggu. Baik ketika musim dingin yang menusuk sampai saat mereka libur atau begadang.

Aku terus-menerus bersikap demikian terhadap anak-anakku, padahal umur mereka sekarang berbeda-beda. Ada yang berumur 12 tahun, ada yang 18 tahun, dan ada yang 20 tahun. Ketika membangukan mereka untuk shalat, aku menempuh beberapa cara, di antaranya berdiri di samping kepala mereka dan menggyur mereka dengan air. Aku tidak memulai shalatku sebelum mengeluarkan mereka dari rumah ke masjid. Aku tidak menerima alasan apa pun dari mereka dan yang terpenting, aku selalu rajin berdoa kepada Allah.

Tindakanku terhadap anak-anakku ini adalah tindakan pribadi. Aku tidak dibantu oleh ayah mereka dalam hal ini, karena ia telah wafat- semoga Allah merahmatinya-, maka segala puji bagi-Nya semata...

FATWA
Tanya: anak-anaku umurnya berkisar antara 9-11 tahun. Aku selalu membangunkan mereka untuk shalat, dan saat shalat subuh udaranya sangat dingin. Karenanya, ada ustadz yang melarangku dan megatakan, “Engkau berdoasa terhadap anak-anakmu yang masih lugu itu”

Benarkah aku berdosa terhadap mereka? Kami mohon jawabannya, Jazakumullah Khairan katsiran.

Jawab: Jika keadannya seperti yang Anda katakan, maka sesungguhnya Anda telah melakukan kebaikan -- Jazakumullah Khairan katsiran --. Kami berharap Allah membalas kebaikan Anda dan menjadikan Anda sebagai teladan yang baik bagi orang lain yang memiliki anak. Sebab itu, ustadz yang mengatakan bahwa Anda berdosa telah keliru. Kami berharap semoga Allah memaafkannya, memberinya taufik kepada kebenaran, dan mendorongnya untuk berbuat baik.
Imam Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat sejak usia tujuh tahun, dan pukullah mereka di usia sepuluh tahun (jika bandel) untuk shalat, dan pisahkanlah ranjang mereka satu sama lain.” Hadits yang mulia ini mencakup seluruh waktu, baik musim panas, dingin dan lainnya.(Fatwa Al-Lajnah ad-Daimah -6/27-28)
Mereka mengatakan,
Masih kecil kok sudah disuruh shalat...
Masih kecil kok sudah disuruhmemendekkan celanya (Tidak isbal)...
Masih kecil kok sudah disuruh pakai jilbab....
Masih kecil kok puasa, kok pakai rok panjang... dan seterusnya...
Namun kami mengatakan:
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu al-Haura’, dia berkata: “Aku bertanya kepada al-Hasan bin Ali ra, ‘Kuningat bahwa aku mengambil sebiji kurma dari zakat kaum muslimin, lalu kuletakkan dalam mulutku, maka Rasulullah saw mengambilnya beserta air liurnya kemudia meletakkannya di tempat kurma. Ketika ia yang mengatakan, “Ya Rasulullah, sebenarnya engkau tak perlu mengambilnya kembali dari mulut anak ini, “maka beliau bersabda “Harta zakat tidak halal bagi kami, keluarga Muhammad.”’
Lihat, umurnya yang masih keccil tidak menghalangi Nabi untuk mengingkari perbuatannya dan melarangnya dari perbuatan haram. Para ulama berdalil dengan hadits ini bahwa anak-anak hharus dijauhkandari hal-hal yang diharamkan, sebagaimana orang dewasa. Adapun hikmah di balik perintah shalat terhadap anak-anak sejak kecil ialah agar mereka biasa dan ringan melakukannya setelah dewasa nanti.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “aku pernah bermalam di rumah bibiku Maimunah binti al-Harits, ra. Maka kukatakan kepadanya, jika Rasulullah saw hendak bangun malam, bangunkan aku”, kemudian Rasulullah saw shalat dan aku berdiri di sebelah kirinya. Maka beliau menarik tanganku dan memindahku ke sebelah kanannya. Kemudian jika aku mengantuk beliru menjewer telingaku pelan-pelan. Ketika itu beliau shalat sebelas rakaat.”

Perhatikan, Nabi saw tidak membiarkan Ibnu Abbas ra seperti itu meski ia masih kecil, namun beliau membangunkannya dan memberinya semangat dengan menjewer telinganya.

Perhatikan pula bagaimana sikapnya yang lemah lembut dalam bergaul dengan anak-anak yang ikut shalat thajjud bersamanya, beliau meletakkan tangannya yang mulia di kepala Ibnu Abbas, lalu menjewer telinganya pelan-pelan, dan ini jelas sikap yang lemah lembut.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa Nabi saw itu sedang shalat, akan tetapi shalatnya tidak menghalangi beliau untuk menegur anak-anak dan mengarakan mereka pada yang benar.

Oleh karenanya, setiap orang tua harus berani menegur anak mereka jika keliru dalam beribadah, dan kesibukan mereka tidak boleh menghalangi mereka dari hal tersebut.



dah selesai kisah inspirasi pengalaman Ketiga pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU". nantikan esok hari pengalaman keempat yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini

No comments:

Post a Comment