Sunday, April 30, 2017

Shalat dapat menolong semua hajat kita



Apabila Rasulullah mendapat kesusahan dan sesuatu yang menyedihkan, maka beliau akan segera menuju shalat.
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Hudzaifah ra, bahwasanya apabila Rasulullah sedang tertimpa suatu kesusahan, maka beliau mengerjakan shalat. Di dalam riwayat ,ain, apabila tertimpa kesusahan atau kesedihan, maka beliau mengerjakan shalat.
Shalat adalah meminta syafaat kepada Allah swt dalam rangka menyelesaikan urusan dan sebagai jalan menuju kepada-Nya dalam rangka keluar dari kesulitan. Dari sini, maka disyariatkan agar shalat Qadhaul Hajah (shalat Hajat). Tentang shalat ini, Imam Ad-Dahlawi berkata, “Pada asalnya, shalat Hajat merupakan harapan dan permintaan manusia terhadap suatu kebutuhannya yang diyakini akan melihat pertolongan dari selain Allah swt, sehingga dia meninggalkan tauhid Isti’anah. Oleh karena itu, bagi mereka disyariatkan shalat dan berdoa untuk menghindar dari keburukan ini, kemudian dengan adanya sebuah kebutuhan itu, maka menjadi penekanan terhadap dirinya dengan cara berbuat baik.”
Dari Abdullah bin Abu Auf Ra, dia berkata, “Rasulullah bersabda, barangsiapa memiliki hajat kepada Allah atau kepada seorang anak Adam, hendaklah dia berwudhu dan memperbagus wudhunya serta shalat sebanyak dua rakaat... kemudian memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Saw, .. kemudian Ucapkanlah:

Meminta Syafaat dengan Shalat











Tidak ada sesembahan kecuali Allah yang Maha lembut dan maha Mulia... Maha suci Allah, Rabb Al-Arsy yang agung ... segala puji milik Allah, Rabb semesta alam ... Aku memohon kepada Mu sebab-sebab datangnya rahmat-Mu dan ampunan-Mu serta memperoleh segala kebaikan dan keselamatan dari seluruh dosa. Janganlah engkau biarkan satu dosapun dariku melainkan Engkau mengampunya, tidak ada kesusahan satupun melainkan Engkau mudahkan, tidak ada kebutuhan yang mengharap keridhaan melainkan Engkau ijabahi, wahai Dzat yang maha penyayang atas segalanya.” (HR. At-Tirmidzi)
Disebutkan di dalam sebuah riwayat Ibnu majjah: “kemudian beliau Saw Bertanya tentang apa saja dari perkara dunia akhirat, kerena sesungguhnya dia Maha Kuasa untuk menentukan....”(Hr. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Di sana terdapat ungkapan lain untuk shalat hajat, mungkin khusus untuk hal-hal ang saangat penting lagi besar dan kebutuhan yang agung.
Ibnu Mas’ud ra. Meriwayatkan dari Nabi saw beliau bersabda, “engkau shalat di malam hari atau di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Engkau duduk tasyahhud di antara dua rakaat. Apabila engkau duduk tasyahhud di akhir shalatmu, maka memujilah kepada Allah saw dan bershalawatlah atas Nabi saw serta bacalah fathatul Kitab di waktu engkau sedang sujud sebanyak tujuh kali ditambah dengan ayat kursi sebanyak tujuh kali, kemudian katakan:






“Tidak ada sesembahan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan dia berkuasa atas segala sesuatu.
Sebanyak tujuh kali lalu Ucapkan:









“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu tempat yang mulia dari Arsy-Mu, rahmat yang tiada tara dari kitab-Mu, kemuliaan-Mu yang tinggi, nama-Mu yang agung, dan kalimat-Mu yang sempurna”.
Setelah itu, maka mintalah hajatmu, angkatlah kepalamu, dan ucapkan salam ke kanan dan ke kiri.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Orang-orang bodoh tidak mengetahuinya, sebab mereka berdoa dengannya, lalu mereka diperkenankan.”
Al-Hakim meriwayatkan, dia berkata, “Ahmad bin Harb berkata, ‘Aku telah mencobanya dan aku mendapatkannya adalah benar’,”
Ibrahim bin Ali Ad-Dibala berkata, “Akut telah mencobanya dan Aku mendapatkannya Adalah benar”
Al-Hakim berkata, “Aku telah mencobanya dan aku mendapatkannya adalah Benar”
Amir bin Khaddasi beriwayatkan sendirian dan dia teroercaya dan Tsiqah.

No comments:

Post a Comment