Shalat merupakan Solusi Bagi Seorang Muslim dari Kesulitan
Sesungguhnya dalam ibadah shalat
terdapat jawaban atas insting manusia yang beraneka ragam. Yang berupa naluri
kebutuhan, kelemahan, dan permintaa, serta penyerahan dan peneguhan diri. Naluri
untuk berdoa dan bermunajat, menyerahkan diri pada Dzat yang Mahaperkasa dan
Mahakaya, yang Mahamulia, dan yang Maha Pemberi, yang Maha Pemberi dan yang
Maha Pengasih, yang Maha Lembut dan Mahakeras, yang Maha Pemberi dan Maha
Pencegah, yang Maha Mendengar dan Maha Menjawab.
Shalat akan menjadi semakin dekat
kepada seorang muslim, menjadi tempat perlindungan yang paling banyak, dan
shalat lebih cepat memberi bantuan dan pertolongan, shalat lebih murah hati,
lebih pengasih, lebih penyayang dari pangkuan seorang ibu yang lebih Pengasih
atas anaknya yang lari, si yatim yang hilang, dan si lemah yang tak berdaya.
Setiap kali dancam dan setiap kali ditimpa rasa takut atau diterpa haus dan
lapar, dia bergegas ke arah ibunya dan menghempaskan dirinya ke pangkuan ibunya
dengan penuh kerendahan diri.
Demikianlah
shalat, ia bisa menjadi tempat berpijak dan berlindung seorang muslim dan
menjadi urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang meneguhkannya. Tali yang
terbentang antara dia dan Rabb-nya yang menjadi tempat bergantng. Dia adalah
gizi bagi ruh, penyejuk jiwa obat bagi luka, penolong bagi yang lemah, rasa
aman bagi yang takut, kekuatan bagi yang lemah, dan senjata bagi orang tak
bersenjata1. Allah berfirman, “Hai oorang-orang yang beriman,
mintalah pertolongan (Kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Shalat, sesungguhnya
Allah berserta orang-orang yang saabar. “Dan dalam ayat yang lain, “dan
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang menyakini, bahwa
mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
Imam Ibnu Katsir berkata, “Mintalah
pertolongan dalam mencari akhirat dengan bersabar dalam mengerjakan kwajiban
dan menegakkan shalat”. Beliau Juga berkata, “sesungguhnya shalat merupakan
pertolongan paling agung untuk tetap teguh dalam menghadapi masalah.”
Allah berfirman, berbicara dengan
kekasih-Nya, “Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit
disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan
jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)2, dan
sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.
Allah memerintahkan Rasulullah agar
menegakkan shalat dan dzikir yang dadanya terasa sesak disebabkan oleh
perkataan musuh-musuh islam. Karena di dalam shalat ada kelapangan bagi jiwa
dan solusi atas segala kesulitan. Demikianlah tuntunan Rasulullah, jika beliau
dihadapkan kepada kesulitan, beliau akan segera bangkit guna mendiri shalat.
Hudzaifah berkata, “Aku pernah mmendatangi Rasulullah pada malang Perang Ahzab,
ternyata beliau segera menegakkan shalat.”
Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib meriwaatkan, “Sungguh, pada malam Perang badar semua orang tertidur,
selain Rasulullah. Beliau terus menegakkan shalat di bawah sebuah pohon, beliau
terus berdoa hingga tiba waaktu shubuh.”
Dan diriwayatkan bahwa Tsabit
berkata, “jika Nabi Saw ditimpa urusaan pelik, beliau memanggil keluarganya
seraya berkata, “Dirikanlah Shalat... dirikanlah shalat’.” Tasbit berkata, “Adalah
para Nabi, apabila mereka ditimpa permasalahan yang sulit, mereka segera
menegakkan shalat.”
Dari Abu Darda, beliau berkata, “Jika
angin bertiup kencang, maka tempat berlindung beliau ialah masjid hingga angin
tersebut tenang. Apabila dilangit terjadi gerhana matahari atau bulan, maka
tempat kembali Rasulullah mendirikan shalat ingga langit kembali terang.”
Demikian pula kondisi para
sahabat yang mulia. An-nadhr meriwayatkan, bahwa suasana sangat gelap pernah
terjadi pada masa Anas. Maka aku datang kepadanya dan berkata, “Wahai Abu
Hamzah, apakah kamu pernah ditimpa hal seperti ini pada masa Rasulullah?” Lalu
beliau berkata, “Kita berlindung kepada Allah, sekiranya angin ini bertiup
kencang, mari kita bergegas menuju masjid! Karena aku cemas jika kiamat
benar-benar terjadi.”
Demikianlah kondisi para sahabat
dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik (Tabi’in) pada setiap
generasi. Dalam bermuamalah dengan shalat, mereka diibaratkan tentara yang
menemukan pedangnya, orang kaya bersama harta kekayaannya, bagaikan anak kecil
dengan rengekan dan tangisannya, dan layaknya seorang bayi dengan kasih sayang
dari ibunya. Bahkan para sahabat dan tabi’in semakin bertambah teguh dan yakin
dengan shalat mereka. Lebih dari itu mereka menjadikan shalat sebagai pegangan
kuat melebihi perumpamaan tadi. Sehingga, shalat adalah kebiasaan yang tidak
bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Jika mereka dikejar, dibuntuti, dihadang
musuh, atau mereka tidak juga mendapat
kemenangan, atau mereka dihadapkan pada permasalahan pelik, maka mereka akan
segera kembali pada shalat.
Kenyataan seperti itu dialami
pulua oleh para imam, para pemimpin dan panglima agama dari masa ke masa. Syaikh
Islam Ibnu Taimiyah mengisahkan, bahwa jika beliau mendapat kesulitan dalam
memahi makna ayat atau ada ilmu yang belum diketahui, beliau segera menuju
salah satu masjid yang jauh dari keramaian, lalu beliau berdiri untuk
menegakkan shalat, menundukkan wajahnya ke tanah, dan memanjang sujudnya sera
berdoa:
“Wahai Dzat yang mengajari
Ibrahim, Ajarilah aku!”
Beliau berdoa dengan sepenuh
hati, sangat merendah kepa Allah, dan beliau berbangga diri tumbuh menjadi
seorang peminta yang telah diwarisi secara turun temurun.
Terdengar beliau
berkata dalam sebagian senandung munajatnya:
Aku adalah seorang peminta-minta,
Putra dari Peminta-minta,
Demikianlah kondisi ayah dan
kakekku.3
Shalat bukan hanya sebuah
kewajiban yang harus ditunaikan ttepat pada waktunya, bukan pula ibadah yang
hanya dikerjakan dengan harapan terlepas dari beban kewajiban kepada Allah,
karena shalat merupakan kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi selain
itu, shalat adalah perisaai dan senjata bagi setiap muslim, kunci untuk membuka
segala macam gembok dan menyingkap segala tabir rahasia. Untuk menghilangkan
rasa takut ada shalat, untuk meminta hujan ada shalat, dan ketika binatang
ternak mati dan jalan-jalan terputus ada shalat. Dan untuk bertobatpun
disunahkan shalat tobat. Dari Abu Bakar, Rasulullah bersabda:
“Tidaklah seorang hamba
melakukan sebuah dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu berdiri
untuk menegakkan shalat dua rakaat, kemudia dia memohon ampun atas dosa-dosanya,
kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (Hadits Shahih)
Ketika terjadi gerhana bulan dan
gerhana matahari juga disyariatkan untuk shalat sunnah. Rasulullah bersaabda:
“Sesungguhnya matahari dan
bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, tapi
keduanya adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah yang membuat para hamba-Nya
takut. Oleh karena itu jika kalian melihatnya, shalat dan berdoalah hingga
tersingkap semua apa yang terdapat di hadapan kalian.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan, “maka
berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan shalatlah, serta bersedekahlah”
Apabila seorang hamba ingin
dipenuhi kebutuhannya atau diberi jalan keluar dari masalah yang dihadapinya,
maka sudah seyogiyanya bagi seorang hamba untuk menghadap kepada Allah sambil
berdoa dengan mengerjakan shalat dua rakaat. Dan salah satu dari adab berdoa
yaitu bersegera mengerjakan amal shalih setelah selesai berdoa.
Dari utsman bin hanif, bahwasanya
ada seorang buta datang menemui Rasulullah, lalu dia berkata, “doakan aku agar Allah
memberi kesembuhan pada mataku!” Rasulullah menjawab, “jika kamu mau, aku
akhirkan doaku (tidak berdoa) dan itu yang terbaik bagimu, dan jika kamu mau,
aku akan mendoakanmu. “orang tersebut berkata, “koakanlah!” maka Rasulullah menyuruhnya
untuk berwudhu kemudian shalat dua rakaat dan berdoa. (Hadits Shahih).
Dan Senantiasa memakmurkan Rumah Allah
dengan shalat dan dzikir merupakan salah satu sebab terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan kita. Abu Hurairah berkata, “sesungguhnya masjid-masjid itu
memiliki tiang-tiang dan orang-orang yang memakmurkannya, itulah yang menjadi
tiang-tiangnya. Mereka juga mempunyai teman duduk dari para malaikan. Jika mereka
tidak hadir, maka malaikat akan menanyakannya dan jika mereka sakit, maka
malaikat akan menjenguknya dan pula jika mereka mendapat kesulitan, maka
malaikat akan membantunya.” (Hadits Shahih)
- Al-Arkanul Arba’ah, Karya
Imam An-nadawi, 29-30 dengan sedikit perubahan.
- Maksudnya adalah bersama
orang-orang yang shalat. Allah mengungkapkan shalat dengan menyebutkan sebagian
dari gerakannya yaitu sujud.
- Al-Arkanu Al-Arba’ah, Hal. 80.
No comments:
Post a Comment