Wednesday, April 26, 2017

Shalat merupakan Solusi Bagi Seorang Muslim dari Kesulitan



Sesungguhnya dalam ibadah shalat terdapat jawaban atas insting manusia yang beraneka ragam. Yang berupa naluri kebutuhan, kelemahan, dan permintaa, serta penyerahan dan peneguhan diri. Naluri untuk berdoa dan bermunajat, menyerahkan diri pada Dzat yang Mahaperkasa dan Mahakaya, yang Mahamulia, dan yang Maha Pemberi, yang Maha Pemberi dan yang Maha Pengasih, yang Maha Lembut dan Mahakeras, yang Maha Pemberi dan Maha Pencegah, yang Maha Mendengar dan Maha Menjawab.

Shalat akan menjadi semakin dekat kepada seorang muslim, menjadi tempat perlindungan yang paling banyak, dan shalat lebih cepat memberi bantuan dan pertolongan, shalat lebih murah hati, lebih pengasih, lebih penyayang dari pangkuan seorang ibu yang lebih Pengasih atas anaknya yang lari, si yatim yang hilang, dan si lemah yang tak berdaya. Setiap kali dancam dan setiap kali ditimpa rasa takut atau diterpa haus dan lapar, dia bergegas ke arah ibunya dan menghempaskan dirinya ke pangkuan ibunya dengan penuh kerendahan diri.

Demikianlah shalat, ia bisa menjadi tempat berpijak dan berlindung seorang muslim dan menjadi urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang meneguhkannya. Tali yang terbentang antara dia dan Rabb-nya yang menjadi tempat bergantng. Dia adalah gizi bagi ruh, penyejuk jiwa obat bagi luka, penolong bagi yang lemah, rasa aman bagi yang takut, kekuatan bagi yang lemah, dan senjata bagi orang tak bersenjata1. Allah berfirman, “Hai oorang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (Kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Shalat, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang saabar. “Dan dalam ayat yang lain, “dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Imam Ibnu Katsir berkata, “Mintalah pertolongan dalam mencari akhirat dengan bersabar dalam mengerjakan kwajiban dan menegakkan shalat”. Beliau Juga berkata, “sesungguhnya shalat merupakan pertolongan paling agung untuk tetap teguh dalam menghadapi masalah.”

Allah berfirman, berbicara dengan kekasih-Nya, “Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)2, dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.

Allah memerintahkan Rasulullah agar menegakkan shalat dan dzikir yang dadanya terasa sesak disebabkan oleh perkataan musuh-musuh islam. Karena di dalam shalat ada kelapangan bagi jiwa dan solusi atas segala kesulitan. Demikianlah tuntunan Rasulullah, jika beliau dihadapkan kepada kesulitan, beliau akan segera bangkit guna mendiri shalat. Hudzaifah berkata, “Aku pernah mmendatangi Rasulullah pada malang Perang Ahzab, ternyata beliau segera menegakkan shalat.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib meriwaatkan, “Sungguh, pada malam Perang badar semua orang tertidur, selain Rasulullah. Beliau terus menegakkan shalat di bawah sebuah pohon, beliau terus berdoa hingga tiba waaktu shubuh.”

Dan diriwayatkan bahwa Tsabit berkata, “jika Nabi Saw ditimpa urusaan pelik, beliau memanggil keluarganya seraya berkata, “Dirikanlah Shalat... dirikanlah shalat’.” Tasbit berkata, “Adalah para Nabi, apabila mereka ditimpa permasalahan yang sulit, mereka segera menegakkan shalat.”

Dari Abu Darda, beliau berkata, “Jika angin bertiup kencang, maka tempat berlindung beliau ialah masjid hingga angin tersebut tenang. Apabila dilangit terjadi gerhana matahari atau bulan, maka tempat kembali Rasulullah mendirikan shalat ingga langit kembali terang.”

Demikian pula kondisi para sahabat yang mulia. An-nadhr meriwayatkan, bahwa suasana sangat gelap pernah terjadi pada masa Anas. Maka aku datang kepadanya dan berkata, “Wahai Abu Hamzah, apakah kamu pernah ditimpa hal seperti ini pada masa Rasulullah?” Lalu beliau berkata, “Kita berlindung kepada Allah, sekiranya angin ini bertiup kencang, mari kita bergegas menuju masjid! Karena aku cemas jika kiamat benar-benar terjadi.”

Demikianlah kondisi para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik (Tabi’in) pada setiap generasi. Dalam bermuamalah dengan shalat, mereka diibaratkan tentara yang menemukan pedangnya, orang kaya bersama harta kekayaannya, bagaikan anak kecil dengan rengekan dan tangisannya, dan layaknya seorang bayi dengan kasih sayang dari ibunya. Bahkan para sahabat dan tabi’in semakin bertambah teguh dan yakin dengan shalat mereka. Lebih dari itu mereka menjadikan shalat sebagai pegangan kuat melebihi perumpamaan tadi. Sehingga, shalat adalah kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Jika mereka dikejar, dibuntuti, dihadang musuh,  atau mereka tidak juga mendapat kemenangan, atau mereka dihadapkan pada permasalahan pelik, maka mereka akan segera kembali pada shalat.

Kenyataan seperti itu dialami pulua oleh para imam, para pemimpin dan panglima agama dari masa ke masa. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengisahkan, bahwa jika beliau mendapat kesulitan dalam memahi makna ayat atau ada ilmu yang belum diketahui, beliau segera menuju salah satu masjid yang jauh dari keramaian, lalu beliau berdiri untuk menegakkan shalat, menundukkan wajahnya ke tanah, dan memanjang sujudnya sera berdoa:

Wahai Dzat yang mengajari Ibrahim, Ajarilah aku!”

Beliau berdoa dengan sepenuh hati, sangat merendah kepa Allah, dan beliau berbangga diri tumbuh menjadi seorang peminta yang telah diwarisi secara turun temurun. 

Terdengar beliau berkata dalam sebagian senandung munajatnya:

Aku adalah seorang peminta-minta, Putra dari Peminta-minta,

Demikianlah kondisi ayah dan kakekku.3

Shalat bukan hanya sebuah kewajiban yang harus ditunaikan ttepat pada waktunya, bukan pula ibadah yang hanya dikerjakan dengan harapan terlepas dari beban kewajiban kepada Allah, karena shalat merupakan kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi selain itu, shalat adalah perisaai dan senjata bagi setiap muslim, kunci untuk membuka segala macam gembok dan menyingkap segala tabir rahasia. Untuk menghilangkan rasa takut ada shalat, untuk meminta hujan ada shalat, dan ketika binatang ternak mati dan jalan-jalan terputus ada shalat. Dan untuk bertobatpun disunahkan shalat tobat. Dari Abu Bakar, Rasulullah bersabda:

Tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu berdiri untuk menegakkan shalat dua rakaat, kemudia dia memohon ampun atas dosa-dosanya, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (Hadits Shahih)

Ketika terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari juga disyariatkan untuk shalat sunnah. Rasulullah bersaabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, tapi keduanya adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah yang membuat para hamba-Nya takut. Oleh karena itu jika kalian melihatnya, shalat dan berdoalah hingga tersingkap semua apa yang terdapat di hadapan kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, “maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan shalatlah, serta bersedekahlah”

Apabila seorang hamba ingin dipenuhi kebutuhannya atau diberi jalan keluar dari masalah yang dihadapinya, maka sudah seyogiyanya bagi seorang hamba untuk menghadap kepada Allah sambil berdoa dengan mengerjakan shalat dua rakaat. Dan salah satu dari adab berdoa yaitu bersegera mengerjakan amal shalih setelah selesai berdoa.

Dari utsman bin hanif, bahwasanya ada seorang buta datang menemui Rasulullah, lalu dia berkata, “doakan aku agar Allah memberi kesembuhan pada mataku!” Rasulullah menjawab, “jika kamu mau, aku akhirkan doaku (tidak berdoa) dan itu yang terbaik bagimu, dan jika kamu mau, aku akan mendoakanmu. “orang tersebut berkata, “koakanlah!” maka Rasulullah menyuruhnya untuk berwudhu kemudian shalat dua rakaat dan berdoa. (Hadits Shahih).

Dan Senantiasa memakmurkan Rumah Allah dengan shalat dan dzikir merupakan salah satu sebab terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita. Abu Hurairah berkata, “sesungguhnya masjid-masjid itu memiliki tiang-tiang dan orang-orang yang memakmurkannya, itulah yang menjadi tiang-tiangnya. Mereka juga mempunyai teman duduk dari para malaikan. Jika mereka tidak hadir, maka malaikat akan menanyakannya dan jika mereka sakit, maka malaikat akan menjenguknya dan pula jika mereka mendapat kesulitan, maka malaikat akan membantunya.” (Hadits Shahih)



  1. Al-Arkanul Arba’ah, Karya Imam An-nadawi, 29-30 dengan sedikit perubahan.  
  2. Maksudnya adalah bersama orang-orang yang shalat. Allah mengungkapkan shalat dengan menyebutkan sebagian dari gerakannya yaitu sujud.
  3. Al-Arkanu  Al-Arba’ah, Hal. 80.

No comments:

Post a Comment