Monday, April 24, 2017

Shalat adalah Wasiat Terahir Rasulullah



Rasulullah tidak memiliki banyak waktu untuk berwasiat ketika saat perpisahannya dengan dunia telah dekat. Ketika beliau merasakan semakin sakitnya skaratul maut, beliau berwasiat dengan suara yang sangat lembut. Dari Ali, beliau berkata, “Perkataan akhir Rasulullah yakni shalat, shalat, dan bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits Shahih)
Dari Annasbin Malik, beliau berkata, “Wasiat Rasulullah yang terakhir yang mana beliau kesulitan menggerakkan lidahnya yaitu Shalat, shalat, dan bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits Shahih)

Ya Allah Ya Karim, nasehat terakhir yang keluar dari mulut Rasulullah adalah tentang shalat, bukan yang lain, bukan menyuruh kumpulkan harta, bukan menyuruh untuk jadi penceramah, bukan menyuruh untuk menjadi pejabat, dan yang lainnya, akan tetapi agar shalat di tunaikan.
Kita berpaling sebentar mengenang detik-detik wafatnya Rasulullah.
Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi buru-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya “Wahai umatku... kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya, maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya
Ku wariskan dua perkara pada kalian yakkni Al-Qur’an dan Sunnahku, barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersam-samakukata Beliau.

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang dan menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya, Usman menahan nafas panjang, Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, sudah tiba saatnya. Rasulullah akan meninggalkan kita semua” Keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia ini. Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik demi detik berlalu.

Matahari makin tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya, tiba-tiba dari luar pintu terdengan ketukan dan salam. “Bolehkan saya masuk?” tanyanya, Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, Ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah “Siapakah Itu Wahai anakku?”, 

Kamudian Fatimah menjawab “Tak tahu Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya”. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan seolah-olah seluruh sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya. ”Ketahuilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di Dunia. Dialah MALAIKAT MAUT” Kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakan tangisnya, malaikat maut telah datang menghampiri, Rasulullahpun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya, kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan penghuni langit, “Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah, “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya, “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?Tanya Rasul. Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kapadaku: “kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata Jibril menyakinkan.

Detik-detik wafatnya Rasulullah semakin dekat, saatnya Izroil melakukan tugasnya, Perlahan-lahan Ruh Rasulullah ditarik, Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang.

Jibril, betapa sakit sakartul maut ini....” Perlahan desiran suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya sementara Ali yang ada disamping menunduk semakin dalam, dan jibril pun memalingkan muka.

jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu jibril?” Tanya Rasul pada malaikat pengantar wahyu itu,.

siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajalnya?” Kata Jibril.

Sesaat kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi,

Ya Allah, dahsyat sekali maut ini timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Kata Rasulullah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya, “Uushikum bis Shalati, wa maa malakat aimanukum”. “Aku berwasiat kepadamu dengan shalat, dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu, . diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, ssahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan ali kembali mendekatkan telinganya kebibir Rasulullah yang mulai kebiruan “Ummatii, Ummatii, Ummatii” . dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan itu.

Mampukan kita mencintainya seperti Dia mencintai kita.

Allahumma Sholli Ala Muhammad, betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Coba kita bayangkan, andai kata kita berada pada ketika beliau berwasiat itu, Muhmmad Nabi yang kita yakini kebenarannya, Muhammad  Rasul yang sangat mulia akhlaknya, yang sangat bersahaja, sangat berwibawa, orang yang mengenalkan kebenaran, yang membuktikan kejujuran dan keadilan itu adalah hak, orang yang paling mengasihi anak yatim, orang yang sangat tampat dan bijaksana, yang selalu mendamaikan hati bagi siapa saja yang berada disekitarnya, orang yang sangat kita cintai, kini dia telah berbaring lunglai dengan penyakitnya, kita menatapnya dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta yang sangat mendalam. tentunya hati kita gundah dan sedih melihat orang seperti beliau merasakan sakit.

Kemudian dengan suara yang kelihatannya sangat sulit untuk menggerakan lidahnya mengatakan wasiatnya agar shalat dapat didirikan.

Bagaimana mungkin seseorang mengatakan mencintai Allah dan Rasulnya, akan tetapi apa yang sangat dianjurkan oleh Rasulnya tidak dikerjakan, bahkan wasiat terakhir Rasulullah dengan suara yang sangat sulit untuk diucapkan. Beliau tidak ingin umatnya untuk meninggalkan shalat.

Rasulullah itu sangat pemurah, Rasulullah itu sangat lembut, sangat baik akhlaknya, sangat sabar, sangat zuhud, sangat taat, sangat ramah, sangat jujur, dan semuanya sifat-sikap yang baik-baik itu dimiliki oleh Rasulullah dalam menyempurnakan kebaikan para Nabi sebagai khatamu Nabiyin, namun Kita saat ini tidak mungkin dapat menyamai semua tingkah laku mulia beliau, akan tetapi satu perbuatan takwa beliau dapat kita ikuti, baik apa yang beliau ucapkan dan apa yang beliau perbuat, persis sama kalau kita shalat dengan benar.

Ayo kita semua agar dapat mengerjakan shalat, yang sangat dianjurkan oleh manusia yang sangat kita cintai dan  yang sangat Allah cintai. Kita buktikan rasa cinta kita dengan melaksanakan wasiatnya yang terakhir untuk umatnya dalam pembuktian cinta kita kepada Beliau. Sebagaimana Allah juga menginginkan untuk kita agar dapat mengikuti Dia. Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Semoga kita tidak hanya jadi orang senang memuji, menyebut Nama Beliau, akan tetapi apa yang diperintahkan, apa yang di nasehatkan dan wasiat-wasiat Beliau tidak kita laksanakan.

semoga kita menjadi muslim yang mencintai dan melaksanakan ajaran islam sebagaimana yang telah di contohkan oleh Beliau. 


Kunjungi juga blog saya yang lain: 

DESA SAMPANAHAN

MTS. SA. MIFTAHUL KHAIR SAMPANAHAN

No comments:

Post a Comment