Puteraku, semoga Allah membenahinya, tidak pernah peduli dengan ajaran agama sama sekali, Ia gemar bermain dan sibuk dengan dunianya. Jika kuingatkan dia untuk shalat, atau kubangunkan untuk shalat, ia tak pernah menjawab seruanku.
Aku pun cemas dan sedih sekali, ketika itulah aku kembali kepada Allah swt. Dan kucurahkan segala gundah gulanaku lewat shalat dan doa.
Aku selalu mengulang-ulang firman Allah berikut,
"Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim; 40)
Aku juga banyak berdoa dengan khusyu’, tulus dan mencucurkan airmata diikuti perasaan merendah di hadapan Allah. Terutama saat membayangkan bahwa anakku akan masuk neraka akibat keengganannya melaksanakan shalata.
Dua tahun berlalu, dan aku masih dalam keadaan yang sama. Ku keluhkan segala gundah gulanaku kepada-Nya. Hingga akhirnya, tibalah suatu hari yang kulihat disaana anakku berdiri melaksanakan shalat...! bahkan ia senantiasa menjaga shalatnya lima waktu, dan menjelaskan kepada orang-orang akan pentingnya shalat.
Maka kuhaturkan segala puji syukur ke hadirat Allah swt. Dan saat itulah kutahu betul bahwa dia benar-benar maha mendengar dan mengabulkan. Yang mengabulkan doa orang yang terjepit.
Ternyata faktor paling utama dalam pengalamanku ialah ketulusanku dalam berdoa dan panjatan doa yang tak henti-hentinya.
--------------------------------------------

No comments:
Post a Comment