Hari ini kita masuk
pengalaman yang keenam dari tata cara mendidik anak dalam buku “AGAR ANAKMU SHALAT SELALU”, Seorang
ibu menceritakan tentang dia mendidik anaknya agar bisa shalat selalu:
Suamiku,
barakallah fith, dulu mengurus anak laki-laki kami, ia amat perhatian terhadap
mereka dalam masalah shalat dan tidak membolehkan mereka shalat kecuali di masjid.
Ketika putera-puteraku menginjak usia tujuh belas tahun, kami pindah ke kota
lain yang jauh dari ayah mereka karena kondisi tertentu.
Usia
mereka saat itu amatlah riskan, mereka sering melarikan diri dari shalat.
Aku
pun berdoa kepada Allah agar dia menolongku dan memperbaiki kondisi anak-anaku.
Aku memaksa mereka agar tidak meremehkan shalat. Aku menagis di depan mereka
agar mereka terkesan saat melihat cucuran air mataku dan ketulusanku dalam
mengajak mereka kepada kebaikan. Aku tak pernah mendoakan keburukan atas
mereka, bahkan sebaliknya aku selalu mmendoakan kebaikan, di samping memantau
mereka hingga yakin bahwa mereka benar-benar pergi ke masjid. Keadaanku tetap
seperti ini hingga anak-anakku melewati masa kritis tersebut, dan mulai menjaga
shalat lima waktu mereka, pun demikian aku tak henti-hentinya mengingatkan dan
menasehati mereka.
Aku
tidak pernah menginap di luar rumah di tempat kerabatku, karena khawatir jika
anak-anak tidak ada yang membangunkan hingga shalat mereka terbengkalai akibat
ketiduran.
Adapun
puteri-puteriku, maka mereak selalu kupantau sejak kecil hingga setelah mereka
dewasa merak mencintai shalat. Aku berperan seperti saudari mereka sendiri, dan
aku amat antusias agar hati merka tidak terikat dengan perkara-perkara duniawi
sperti shoping dan semisalnya. Mereka selalu tersibukkan dengan urusan rumah
karena tidak ada pembantu. Dengan begitu, merak lebih mudah untuk komitmen
terhadap perintah Allah dan mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka semua taat
kepadaku dan lebih mendahulukan ridhaku, dan ini merupakan nikmat Allah yang
selalu kusyukuri.
------------------------------------------
Andai
saja kita hitung waktu yang kita pakai untuk shalat, maka berapakh
prosentasenya dibandingkan seluruh waktu kita?
Maksimal
hanya 6, 25% dari sehari semalam, dan ini adalah bagian yang amat kecil untuk
sebuah amalan yang saangat agung, padahal amalan tersebut memiliki dampak yang
terpuji dalam kehidupan manusia, baik di dunia, di kubur, atau di padang
mahsyar kelak.(dinukil dari ahkam as shalah, oleh syaikh Muhammad bin Shalih
al Utsaimin ra. Hal. 5)
----------------------------------------------------------
Nantikan esok
hari pengalaman ketujuh yang di tulis oleh orang tua yang beriman. pada buku
ini yang akan saya posting.
-------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------
Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini
tetap bisa eksis, bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan
di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.
Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman,
anak, dan sebagainya yang masih kuliah dan ingin mencari materi makalah ada dapat share postingan saya tentang makalah.

No comments:
Post a Comment