Monday, May 8, 2017

Sampai-sampai motivasi mendapat pahala mengalahkan motivasi-motivasi lainnya.




Pahala adalah motivator paling bermanfaat yang tak pernah kehilangan cahayanya. Karenanya, aku amat bersemangat saat mengingatkan anak-anakku akan pahala yang besar dari Allah bagi mereka yang shalat. Hal inilah yang menjadikan usahaku sukses dengan mudah, alhamdulillah....

Rencanaku untuk membiasakan anak-anak rajin shalat adalah sejak dini. Anakku yang masih berusia dua tahun takkan kularang jika ia duduk di sampingku saat aku shalat, bahkan aku akan meluaskan tempat untuknya, atau menggelarkan sajadah khusus baginya. Kadang-kadang ia kuajak dengan cara yang enak, “maukah kamu shalat bersamaku?” atau “mari kita shalat.” Kadang ia mau kuajak shalat, kadang ia malah pergi bermain, namun kubiarkan ia berbuat semaunya karena ia masih kecil.
Aku melihat sebagian anakku yang masih kelas dua SD bagaimana ia belajar tata cara shalat bersama guru dan teman-teman sekelas. Kudapati bahwa ia pulang ke rumah dengan gembira karena telah belajar tata cara shalat yang benar. Saat itulah aku memainkan peranku di rumah sebagai ‘ibunya’ untuk menyempurnakan apa yang telah ia pelajari di sekolah. Kuminta dia untuk shalat dengan suara lantang (Jahr) agar aku dapat membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan atau gerakan.
Setelah aku yakin bahwa anakku tahu bagaimana tata cara wudhu, pembatal-pembatalnya, tata cara shalat dan apa yang membatalkannya; mulailah tahap permantauan.

Jika kulihat ia shalat, aku bersyukur kepada Allah, namun jika aku tidak melihatnya shalat, dia kutanya, “Kamu Sudah shalat?” sembari terus memperhatikannya dan menjelaskan kepadanya akan besarnya pahala disisi Allah, dan bahwa sanya Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya. Allah berfirman,
Tidaklah dia mengetahui bahwa Allah itu meliahat” (QS. Al-Alaq: 14)
Itu semua agar ia tak shalat karena takut kepadaku. Atau sekedar menyenangkan hatiku, akan tetapi shalatnya benar karena Allah swt. Juga agar aku tidak memojokkanya untuk berdusta kalau memang ternyata ia belum shalat, hingga dengan begitu ia terhindar dari dosa besar karena berdusta.
Biasanya aku berkata padanya, “amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti adalah shalat. Kalau shalatnya baik, amalan lainnya akan baik. Tapi kalau shalatnya rusak, amalan lainnya akan rusak.” Maka dia jadi lebih perhatian terhadap shalatnya agar amalan lainnya tidak rusak.
Aku memandang bahwa anak-anak ketika dibiasakan shalat setelah berumur tujuh tahun, kadang tidak tertarik dengan iming-iming materi  meski setiap hari ia makan permen dan berbagai mainan penuh sesak mengisi rumah, akan tetapi ketika ia kuiming-imingi dengan apa yang lebih bernilai dari dunia agar hatinya terikat dengan akhirat, kemudian ia bermal demi mendapat ridha ilahi, itulah ‘pahala’ yang sungguh ajaib pengaruhnya. Aku telah merasakannya secara langsung dalam banyak hal.
Contohnya, ketika kukatakan pada puteriku, “singkirkan barang ini dari jalan agar Allah memberimu phala yang banyak,” , ia pun bergegas melaksanakan perintahku, namun ketika kukatakan kepadanya, “singkirkan barang ini dari sini agar rumah kita nampak bersih dan rapi,” maka ia menjawab, “yang meletakkan di sini adalah si Fulanah, bukan aku, suruh saja dia yang menyingkirkan.” Subhanallah.
Kesimpulannya, anak-anak adalah ibarat tanaman, kalau kita rawat dan kita perhatikan sejak kecil ia akan sukses , namun jika jika kita biarkan dan sia-siakan sejak kecil, ia akan rusak dan sulit dibenahi setelah itu, kemudian akhirnya kita kebingungan mencari solusi untuk membenahinya.!
---------------------------------------
Fatwa
Tanya: Ketika anak mulai diperintahkan untuk shalat, apakah yang dimaksud dengan tujuh tahun itu ketiak telah genap berusia enam tahun dan masuk tahun ketujuh, ataukah ketika genap berumur tujuh, ataukan ketika genap berumur tujuh tahun dan masuk ke delapan?
Jawab: jika si anak telah mencapai tahun ke tujuh, maka ia diperintahkan oleh orang tunya/pengasuhnya untuk shalat agar terbiasa. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Al –Hakim , bahwa Nabi sawa bersaabda, “perintahkanlah anak-anakmu  untuk shalat saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat saat berumur sepuluh tahun, dia pisahkan ranjang mereka” dari sini kita ketahui bahwa yang dimaksud iaalah genap berumur tuh tahu, bukan masuk ke tujuh”( FATAWA al Lajnah ad Daimah (6/26)


----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai kisah inspirasi pengalaman Kedelapan pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU
Nantikan esok hari pengalaman kesembilan yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini
Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...

No comments:

Post a Comment