Pahala
adalah motivator paling bermanfaat yang tak pernah kehilangan cahayanya.
Karenanya, aku amat bersemangat saat mengingatkan anak-anakku akan pahala yang
besar dari Allah bagi mereka yang shalat. Hal inilah yang menjadikan usahaku
sukses dengan mudah, alhamdulillah....
Rencanaku
untuk membiasakan anak-anak rajin shalat adalah sejak dini. Anakku yang masih
berusia dua tahun takkan kularang jika ia duduk di sampingku saat aku shalat,
bahkan aku akan meluaskan tempat untuknya, atau menggelarkan sajadah khusus
baginya. Kadang-kadang ia kuajak dengan cara yang enak, “maukah kamu shalat
bersamaku?” atau “mari kita shalat.” Kadang ia mau kuajak shalat, kadang ia
malah pergi bermain, namun kubiarkan ia berbuat semaunya karena ia masih kecil.
Aku
melihat sebagian anakku yang masih kelas dua SD bagaimana ia belajar tata cara
shalat bersama guru dan teman-teman sekelas. Kudapati bahwa ia pulang ke rumah
dengan gembira karena telah belajar tata cara shalat yang benar. Saat itulah
aku memainkan peranku di rumah sebagai ‘ibunya’ untuk menyempurnakan apa yang
telah ia pelajari di sekolah. Kuminta dia untuk shalat dengan suara lantang
(Jahr) agar aku dapat membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan atau gerakan.
Setelah
aku yakin bahwa anakku tahu bagaimana tata cara wudhu, pembatal-pembatalnya,
tata cara shalat dan apa yang membatalkannya; mulailah tahap permantauan.
Jika
kulihat ia shalat, aku bersyukur kepada Allah, namun jika aku tidak melihatnya
shalat, dia kutanya, “Kamu Sudah shalat?” sembari terus memperhatikannya dan
menjelaskan kepadanya akan besarnya pahala disisi Allah, dan bahwa sanya Allah
senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya. Allah berfirman,
”Tidaklah
dia mengetahui bahwa Allah itu meliahat” (QS. Al-Alaq: 14)
Itu
semua agar ia tak shalat karena takut kepadaku. Atau sekedar menyenangkan
hatiku, akan tetapi shalatnya benar karena Allah swt. Juga agar aku tidak
memojokkanya untuk berdusta kalau memang ternyata ia belum shalat, hingga
dengan begitu ia terhindar dari dosa besar karena berdusta.
Biasanya
aku berkata padanya, “amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti
adalah shalat. Kalau shalatnya baik, amalan lainnya akan baik. Tapi kalau
shalatnya rusak, amalan lainnya akan rusak.” Maka dia jadi lebih perhatian
terhadap shalatnya agar amalan lainnya tidak rusak.
Aku
memandang bahwa anak-anak ketika dibiasakan shalat setelah berumur tujuh tahun,
kadang tidak tertarik dengan iming-iming materi
meski setiap hari ia makan permen dan berbagai mainan penuh sesak
mengisi rumah, akan tetapi ketika ia kuiming-imingi dengan apa yang lebih
bernilai dari dunia agar hatinya terikat dengan akhirat, kemudian ia bermal
demi mendapat ridha ilahi, itulah ‘pahala’ yang sungguh ajaib pengaruhnya. Aku
telah merasakannya secara langsung dalam banyak hal.
Contohnya,
ketika kukatakan pada puteriku, “singkirkan barang ini dari jalan agar Allah
memberimu phala yang banyak,” , ia pun bergegas melaksanakan perintahku, namun
ketika kukatakan kepadanya, “singkirkan barang ini dari sini agar rumah kita
nampak bersih dan rapi,” maka ia menjawab, “yang meletakkan di sini adalah si
Fulanah, bukan aku, suruh saja dia yang menyingkirkan.” Subhanallah.
Kesimpulannya,
anak-anak adalah ibarat tanaman, kalau kita rawat dan kita perhatikan sejak
kecil ia akan sukses , namun jika jika kita biarkan dan sia-siakan sejak kecil,
ia akan rusak dan sulit dibenahi setelah itu, kemudian akhirnya kita
kebingungan mencari solusi untuk membenahinya.!
---------------------------------------
Fatwa
Tanya:
Ketika anak mulai diperintahkan untuk shalat, apakah yang dimaksud dengan tujuh
tahun itu ketiak telah genap berusia enam tahun dan masuk tahun ketujuh,
ataukah ketika genap berumur tujuh, ataukan ketika genap berumur tujuh tahun
dan masuk ke delapan?
Jawab:
jika si anak telah mencapai tahun ke tujuh, maka ia diperintahkan oleh orang
tunya/pengasuhnya untuk shalat agar terbiasa. Sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Al –Hakim , bahwa Nabi sawa bersaabda,
“perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat
saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat saat berumur
sepuluh tahun, dia pisahkan ranjang mereka” dari sini kita ketahui bahwa yang
dimaksud iaalah genap berumur tuh tahu, bukan masuk ke tujuh”( FATAWA al Lajnah
ad Daimah (6/26)
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai
kisah inspirasi pengalaman Kedelapan pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU"
Nantikan
esok hari pengalaman kesembilan yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada
buku ini yang akan saya posting.
Bagi pembaca
sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share
artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan
sebagainya.
Juga bagi yang
ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah
ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

No comments:
Post a Comment