Wednesday, May 10, 2017

Jangan Tergesa-Gesa



Kubuka pintu dengan tergesa-gesa setelah bel berdering bertubi-tubi. Tiba-tiba dua orang berdiri tegak di hadapanku, bekas-bekas perkelahian nampak jelas pada wajah keduanya. Telinga abdullah merah merekah akibat dijewer berulang kali oleh ayahnya. Abdullah berlari menerjangku sambil menagis dan bersumpah tak mau lagi ke masjid.
Adapun si ayah segera menuju tempat duduk dan menenggelamkan kepalanya di antara lembaran-lembaran koran. Aku tahu bahwa ini adalah usaha yang gagal.

Ayah bersikeras mengajak abdullah untuk shalat jumat di awal waktu, padahal umurnya belum empat tahun, padahal tidak mudah bagi anak kecil untuk melewatkan dua jam berturut-turut di masjid tanpa bergerak, lalu ketika imam menapaki mimbar dan orang-orang berhenti membaca dan berdzikir, suasananya jadi semakin asing bagi abdullah. Adapun si ayah, semua arahannya akan berubah dari suara menjadi sekedar isyarat tangan, lalu kondisinya akan semakin memanas, persis seperti orang dewasa bertengkar dengan anak-anak yang keheranan melihat tingkah laku orang shalat. Atau mungkin ia akan bertemu dengan anak-anak yang sebaya dengannya dan membuat suasana makin kacau.

Dengan nada emosi, suamiku memulai pembicaraan seraya berkata:
setelah menyibukkanku seharian, ia minta diantarkan ke toilet saat khatib baik mimbar. Caba bayangkan bagaimana kacaunya?!”

Kemudian ia melanjutkan, “Anakku harus biasa ke masjid sejak dini, bagaimana dia akan menjaga agamanya di zaman yang penuh fitnah seperti ini kalau ia tak terbiasa ibadah sejak kecil?!”

Aku pun memberanikan diri, lalu kusela omongannya dengan mengatakan, “Peerbuatanmu ini telah melanggar syariat.” Seketika ia menoleh kepadaku dengan kedua bola mata yang penuh kemarahan, namun aku tak memberinya kesempatan untuk berbicara dan akupun langsung menukas, “Rasulullah saw bersabda, “Perintahkanlah anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat saat berumur sepuluh tahun.” Anakmu baru empat tahun, apa menurutmu perbuatanmu tadi benar?!

Tidakkah kamu mendengan ucapannya tadi, bahwa dia tidak suka masjid dan tidak akan ke masjid lagi?!

Apakah menurutmu ini awal yang sukses dalam mengajari anakmu agar cinta ibadah? Pendidikan itu bukan supaya ia belajar beribadah karena takut kepadamu, tapi pendidikan sesungguhnya ialah bagaimana agar ia mencintai ibadah tersebut.
Lalu kubiarkan dia merenungkan apa yang barusan diperbuatnya dan aku bergegas menghampiri abdullah. Alangkah malang nasib si kecil yang diperlakukan sebagai orang dewasa oleh ayahnya. Kudekap dia di dadaku. Aku berlindung kepada Allah bila ia sampai membenci rumah-rumah Allah.

Seketika itu pula ia kuajak bermain hingga kesedihannya sirna, lalu kutanya dia tentang hal paling indah yang dilihatnya di masjid. Serta merta terungkaplah rahasia hatinya dan ia mulang menggambarkan masjid dengan bahwa kanak-kanaknya. Ia amat terpesona dengan penampilan sang khatib tatkala berkhutbah, dan alangkah inginnya jika suatu saat ia berkhutbah di depan orang-orang seperti itu. Akan tetapi ia tetap merasa aneh dengan sikap ayahnya yang bersikeras agar dirinya diam dan tidak mau berbicara kepadanya atau menjawab pertanyaannya. Memang wajarlah jika ia merasa aneh.

Ayahnya sebenarnya tahu semua hal tentang pendidikan anak, akan tetapi ia kehilangan suatu hal yang ppaling penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan orang yang tergesa-gesa dan kurang matang dalam berindak. Ia lelaki yang emosional, tidak menangani sesuatu sesuai dengan kenyataannya dan tidak memberikan waktu yang cukup dalam mengajari sesuatu. Ia tak sabar dengan pahitnya belajar dan tak memahami bahwa seseorang harus melalui jembatan kekeliruan sebelum sampai di bumi kebenaran, seakan-akan ia diciptakan langsung sempurna begitu saja dan tidak pernah keliru sedikitpun dalam hidupnya.

----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai kisah inspirasi pengalaman Kesembilan pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU

Nantikan esok hari pengalaman Kesepuluh yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini

Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...

No comments:

Post a Comment