Kubuka
pintu dengan tergesa-gesa setelah bel berdering bertubi-tubi. Tiba-tiba dua
orang berdiri tegak di hadapanku, bekas-bekas perkelahian nampak jelas pada
wajah keduanya. Telinga abdullah merah merekah akibat dijewer berulang kali
oleh ayahnya. Abdullah berlari menerjangku sambil menagis dan bersumpah tak mau
lagi ke masjid.
Adapun
si ayah segera menuju tempat duduk dan menenggelamkan kepalanya di antara
lembaran-lembaran koran. Aku tahu bahwa ini adalah usaha yang gagal.
Ayah
bersikeras mengajak abdullah untuk shalat jumat di awal waktu, padahal umurnya
belum empat tahun, padahal tidak mudah bagi anak kecil untuk melewatkan dua jam
berturut-turut di masjid tanpa bergerak, lalu ketika imam menapaki mimbar dan
orang-orang berhenti membaca dan berdzikir, suasananya jadi semakin asing bagi
abdullah. Adapun si ayah, semua arahannya akan berubah dari suara menjadi
sekedar isyarat tangan, lalu kondisinya akan semakin memanas, persis seperti
orang dewasa bertengkar dengan anak-anak yang keheranan melihat tingkah laku
orang shalat. Atau mungkin ia akan bertemu dengan anak-anak yang sebaya
dengannya dan membuat suasana makin kacau.
Dengan
nada emosi, suamiku memulai pembicaraan seraya berkata:
“setelah
menyibukkanku seharian, ia minta diantarkan ke toilet saat khatib baik mimbar. Caba
bayangkan bagaimana kacaunya?!”
Kemudian
ia melanjutkan, “Anakku harus biasa ke masjid sejak dini, bagaimana dia akan
menjaga agamanya di zaman yang penuh fitnah seperti ini kalau ia tak terbiasa
ibadah sejak kecil?!”
Aku pun
memberanikan diri, lalu kusela omongannya dengan mengatakan, “Peerbuatanmu
ini telah melanggar syariat.” Seketika ia menoleh kepadaku dengan kedua
bola mata yang penuh kemarahan, namun aku tak memberinya kesempatan untuk
berbicara dan akupun langsung menukas, “Rasulullah saw bersabda, “Perintahkanlah
anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka
untuk shalat saat berumur sepuluh tahun.” Anakmu baru empat tahun, apa
menurutmu perbuatanmu tadi benar?!
Tidakkah
kamu mendengan ucapannya tadi, bahwa dia tidak suka masjid dan tidak akan ke
masjid lagi?!
Apakah
menurutmu ini awal yang sukses dalam mengajari anakmu agar cinta ibadah?
Pendidikan itu bukan supaya ia belajar beribadah karena takut kepadamu, tapi
pendidikan sesungguhnya ialah bagaimana agar ia mencintai ibadah tersebut.”
Lalu
kubiarkan dia merenungkan apa yang barusan diperbuatnya dan aku bergegas
menghampiri abdullah. Alangkah malang nasib si kecil yang diperlakukan sebagai
orang dewasa oleh ayahnya. Kudekap dia di dadaku. Aku berlindung kepada Allah bila
ia sampai membenci rumah-rumah Allah.
Seketika
itu pula ia kuajak bermain hingga kesedihannya sirna, lalu kutanya dia tentang
hal paling indah yang dilihatnya di masjid. Serta merta terungkaplah rahasia
hatinya dan ia mulang menggambarkan masjid dengan bahwa kanak-kanaknya. Ia amat
terpesona dengan penampilan sang khatib tatkala berkhutbah, dan alangkah
inginnya jika suatu saat ia berkhutbah di depan orang-orang seperti itu. Akan tetapi
ia tetap merasa aneh dengan sikap ayahnya yang bersikeras agar dirinya diam dan
tidak mau berbicara kepadanya atau menjawab pertanyaannya. Memang wajarlah jika
ia merasa aneh.
Ayahnya
sebenarnya tahu semua hal tentang pendidikan anak, akan tetapi ia kehilangan
suatu hal yang ppaling penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan orang yang
tergesa-gesa dan kurang matang dalam berindak. Ia lelaki yang emosional, tidak
menangani sesuatu sesuai dengan kenyataannya dan tidak memberikan waktu yang
cukup dalam mengajari sesuatu. Ia tak sabar dengan pahitnya belajar dan tak
memahami bahwa seseorang harus melalui jembatan kekeliruan sebelum sampai di
bumi kebenaran, seakan-akan ia diciptakan langsung sempurna begitu saja dan
tidak pernah keliru sedikitpun dalam hidupnya.
----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai
kisah inspirasi pengalaman Kesembilan pada buku
yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU"
Nantikan
esok hari pengalaman Kesepuluh yang di tulis oleh
orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.
Bagi pembaca
sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share
artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan
sebagainya.
Juga bagi yang
ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah
ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.


No comments:
Post a Comment