Sunday, May 21, 2017

haul habib sulaiman bahasyim yang kedua

haul Habib Sulaiman bin Habib Umar Bahasyim Sampanahan Hilir
Ini adalah kutipan ceramah pada acara haul habib sulaiman bin umar bahasyim pada hari ini minggu 21 Mei 2017. oleh Habib Saufi bin Abdurrahman ba'bud dari Kota Gerogot, Kabupaten Paser Kalimantan Timur.
Dimulai Haul hari ini dengan pembacaan shalawat maulid Al Azhab, kemudian setelah selesai acara Maulid dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair shalawat nabi, sebelum penceramah seorang habib dari Tanah Gerogot datang, untuk mengisi Taushiyah.
Setelah beliau datang mulailah memberikan ceramahnya diawali dengan salam dan sapaan kepada ahlil bait, ceramah beliau bertemakan bakti kepada kedua orang tua.

Berikut kutipan ceramah beliau:

Acara haul adalah salah satu cara seorang anak dalam berbakti kepada orang tua. Tidak hanya bakti seorang anak pada orang tua ketika mereka hidup. Berbakti kepada orang tua diperintahkan oleh Allah dan rasulnya. Sebagaimana seorang sahabat nabi yang ditanya tentang berbakti kepada orang tuanya, jadi katanya salah satu cara berbakti kepada orang tua kita maka setiap setelah sholat mendoakan kepada kedua orang tuanya.

Rasul bersabda "Rugilah seorang anak yang tidak bisa berbakti kepada orang tuanya".

Kita lihat cerita alkamah yaitu Seorang yangg sangat dekat dengan nabi. Tetapi saat sakaratulmaut dia tersiksa tidak dapat mengucap talqin Laa ilaha Illallah.

Sehingga Rasulullah yang mentalkinkannya. Sampai-sampai Rasulullah bertanya pada istri alkamah. Kenapa sampai begini (sulit membaca talkin). 

Lalu istri alqamah bercerita bahwa alqamah punya seorang ibu yang tua renta tidak tinggal bersama Alkamah.

Lalu Rasulullah menyuruh sahabat Ali untuk menemui ibu Alqamah dan benceritakan tentang alqamah yang sulit mengucapkan talqin di akhir hidupnya dan tersiksa..

Lalu ibunya alqamah berkata dia lebih memilih istrinya daripada aku (ibunya). Padahal Aku telah memeliharanya sejak lahir. Melahhirkan membesarkan dengan penuh kasih sayang tapi dia memilih tinggal bersama istrinya daripada tinggal bersaama aku ibunya.


Dia (ibu Alkamah) tidak mau memaafkan alqamah.

Lalu Nabi menyuruh membakar alqamah dihadapan ibunya karena tidak dapat mengucapkan talkin dan tidak dapat mati karena tidak dimaafkan ibunya, dengan demikian kepintaran rasulullah Akhirnya ibunya memaafkannya karena tidak seorang ibupun yang tega melihat anaknya sengsara.

Juga seorang yang memiliki anak jangan hanya meminta anak berbakti tapi ingatlah bila kita berbakti kepada kedua orang tua kita tapi kita sendiri yang tidak berbakti kepada kedua orang tua. Seharusnya bila kita ingin anak berbakti kepada orang tua. Maka kita harus berbakti kepada orang tua kita terlebih dahulu.

Habib abdullah al-idrus sibuk dengan ibadahnya sendiri juga istri ketika waktu sepertiga malam, hal ini dilihat oleh anaknya habib abu bakar. Sehingga ketika habib abu bakar terbangun malam melihat ayah dan ibunya selalu disibukkan dengan ibadah. Sehinģan ketika beliau besar tidak sulit untuk beribadah karena sudah di contohkan oleh ayah dan ibunya. Itulah cara orang dahulu mendidik anak-anak mereka.

juga ketika saya di pondok pesantren Saya bingung dan terkejut melihat anak guru saya di mesjid sedangkan dia masih berumur dua tahun, maka saya ambil dan antar kerumah guru saya lalu, saya di suruh guru saya untuk membiarkannya tetap dimesjid karena sebentar lagi para santri akan datang ke mesjid untuk beribadah, dan supaya dia dapat melihat para santri nanti beribadah.

Saad bin abi waqas datang kepada nabi dan meminta kepada nabi untuk mendoakan dia masuk surga. Lalu nabi bersabda "bantu aku dengan banyak sujud kepada allah"..

di zaman sekarang banyak orang datang kepada tuan guru membawa air dan meminta doa agar anaknya menjadi shaleh dan pintar dan sebagainya. tapi ketahuilah berdasarkan hadist tadi bahwa Ilmu itu di dapat tidak dengan hanya doa tapi dengan belajar. Jadi tidak ada artinya doa tanpa ada belajar. Bila seorang anak didik untuk dapat berbakti kepada kita dan agar seorang anak dapat menjalankan perintah allah. maka semua itu harus dengan ikhtiar, bukan hanya doa.

Diriwayatkan oleh imam ahmad bahwa berbakti kepada orang tua dapat menghapuskan dosa-dosa.

kemudian habib penceramah  bergantin topik pembahasan dengan menyambut bulan puasa ramadhan kata beliau:
Sebentar lagi kita masuk bulan ramadhan...

Bahwasanya puasa ramadhan wajib bagi kita. Juga berapa banyak orang puasa tapi tidak dapat apa-apa, melainkan rasa haus dan lapar saja.

Imam al ghazali membagi golongan puasa menjadi 3 golongan
 Golong pertama golongan 'aam yang hanya dapat puasa mendapatkan lapar dan haus saja tapi tidak memdapat pahala..

Ada lima macam yang membatalkan pahala puasa.
  1. Puasa tapi berdusta seperti mendustai ayam ketika memberi makan ayam untuk di tangkap dan disembelih. Atau untuk menidurkan anak kecil berdusta dengan mengatakan ini itu supaya dia tidur atau anaknya mau membeli pentul berdusta orang tua mengatakan tidak punya uang. 
  2. Ghibah. Di jaman rasul telah terjadi dua orang wanita berpagi menggibah tetangga padahal dia sedang puasa dan sahur dengan makanan nasi dan ikan, sampai lebih seperempat hari terasalah perut mereka lapar. Akhirnya wanita itu menyuruh  budaknya untuk menemui nabi dan bertanya "bolehkah aku tidak puasa?". Namun rasul berkata dia sudah tidak puasa lagi. Kemudian disuruh budak tadi menemui nabi lagi menyampaikan bahwa dia tidak makan apapun sejak setelah sahur. Lalu nabi menyuruh budak tadi mengambil wadah untuk muntah wanita tadi. lalu muntahlah wanita itu dengan muntah daging yang busuk.. ternyata muntah itu berasal dari ghibah yang di kerjakannya sejak pagi.
  3. Namimah layadhulul jannah annamam atau propokator. Seorang saudagar membeli seorang budak dengan harga murah dengan penyakit senang namimah. Akhirnya dibawa kerumah dengan nilai pekerjaan dan kualitasnya yang bagus. Akhirnya budak itu bekerja dengan bagus. Akhirnya hari minggu dan bulan berganti. Saudagar tadi lagi santai lalu datang seorang budak tadi datang untuk melaporkan cerita tentang istri saudagar yang bertemu dengan lelaki tapi budak itu mengaku tidak mendangar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan. namun yang sempat budak itu dengar bahwa Kata istri anda ingin membunuh anda lalu dia kawin dengan lelaki itu. Walau sebentar tidak percaya saudagar itu namun setelah beberapa saat timbullah rasa ingin tahu saudagar itu tentang kebenaran cerita budaknya itu hingga malam tiba. setelah budak itu menemui saudagar yang duduk di didepan ruahnya tadi ia juga pergi menemui istri sudagar itu yang lagi memasak menceritakan tentang suaminya yang selingkuh. tapi sepertinya suami anda kena guna-guna kata budak itu. Kalau ingin menghilangkannya anda harus memotong rambut suami anda dengan pisau. Sampailah waktu malam saudagar itu mau tidur akan tetapi tidak berani tidur takut dibunuh istrinya. akhirnya saudagar itu menyiapkan senjata di tempat tidurnya ketika sang istri ingin memotong rambutnya. Dia langsung menbunuh istrinya dengan senjatanya tadi yang mengakibatkan keduabuah keluarga besar antara suami dan istri saudagar itu berperang antara, karena tidak terima dengan kejadian itu.
  4. Berjanji palsu
  5. Memandang dengan syahwat. Dibulan puasa syahwat harus ditahan. Walaupun halal. Bila berhubungan suami istri saat puasa dsaiang hari. Dosanya sangat besar. Saya dahulu dilarang nonton tv oleh kai. Karena di tv itu banyak tampilan yang menampilkan sesuatu yang menimbulkan syahwat.
jika puasa dan tidak mampu menjaga pandangan dengan syahwat lebih baik tidur. Tapi jangan juga tidur yang kebablasan. Sehingga zuhur dan ashar terlewat.

Golongan yang kedua puasa khas yaitu orang yang puasa dapat menahan diri dari maksiat. Di luar bulan ramadhan mata tidak di pakai membaca alquran di bulan ramadhan dipakai untuk membaca al quran

Golongan yang ketiga selain menahan makan. Menahan dari maksiat. Tapi juga hatinya di jaga. 

Habib abdullah al hadad berkata jika hatiku sedetik saja maksiat maka bukan puasaku saja yang batal akan tetapi aku tergolong orang kapir.

Marilah kita berbakti kepada orang tua dan mari kita siapkan dirikita dalam menyambut bulan puasa. semoga yang sedikit ini memberikan manfaat dan mudahan apa yang kita inginkan tercapai berkat keturunan nabi muhammad saw. semoga nabi memandang kepada kita dan memberi sayafàat. Dan semoga kita mati dalam khusnul khatimah..

Kurang mungkin.. mohon di maafkan akhir kalam wassalamualaikum wr wb.


ya itulah sedikit yang bisa saya kutip dari ceramah pada acara haul habib sulaiman bin umar bahasyim sampanahan hilir.


semoga artikel ini memberi manfaat dan faedah.. 
mohon maaf bila dalam susunan kalimat, kata dan sebagainya dalam artikel ini kurang bagus. 

bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...

Wednesday, May 10, 2017

Jangan Tergesa-Gesa



Kubuka pintu dengan tergesa-gesa setelah bel berdering bertubi-tubi. Tiba-tiba dua orang berdiri tegak di hadapanku, bekas-bekas perkelahian nampak jelas pada wajah keduanya. Telinga abdullah merah merekah akibat dijewer berulang kali oleh ayahnya. Abdullah berlari menerjangku sambil menagis dan bersumpah tak mau lagi ke masjid.
Adapun si ayah segera menuju tempat duduk dan menenggelamkan kepalanya di antara lembaran-lembaran koran. Aku tahu bahwa ini adalah usaha yang gagal.

Ayah bersikeras mengajak abdullah untuk shalat jumat di awal waktu, padahal umurnya belum empat tahun, padahal tidak mudah bagi anak kecil untuk melewatkan dua jam berturut-turut di masjid tanpa bergerak, lalu ketika imam menapaki mimbar dan orang-orang berhenti membaca dan berdzikir, suasananya jadi semakin asing bagi abdullah. Adapun si ayah, semua arahannya akan berubah dari suara menjadi sekedar isyarat tangan, lalu kondisinya akan semakin memanas, persis seperti orang dewasa bertengkar dengan anak-anak yang keheranan melihat tingkah laku orang shalat. Atau mungkin ia akan bertemu dengan anak-anak yang sebaya dengannya dan membuat suasana makin kacau.

Dengan nada emosi, suamiku memulai pembicaraan seraya berkata:
setelah menyibukkanku seharian, ia minta diantarkan ke toilet saat khatib baik mimbar. Caba bayangkan bagaimana kacaunya?!”

Kemudian ia melanjutkan, “Anakku harus biasa ke masjid sejak dini, bagaimana dia akan menjaga agamanya di zaman yang penuh fitnah seperti ini kalau ia tak terbiasa ibadah sejak kecil?!”

Aku pun memberanikan diri, lalu kusela omongannya dengan mengatakan, “Peerbuatanmu ini telah melanggar syariat.” Seketika ia menoleh kepadaku dengan kedua bola mata yang penuh kemarahan, namun aku tak memberinya kesempatan untuk berbicara dan akupun langsung menukas, “Rasulullah saw bersabda, “Perintahkanlah anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat saat berumur sepuluh tahun.” Anakmu baru empat tahun, apa menurutmu perbuatanmu tadi benar?!

Tidakkah kamu mendengan ucapannya tadi, bahwa dia tidak suka masjid dan tidak akan ke masjid lagi?!

Apakah menurutmu ini awal yang sukses dalam mengajari anakmu agar cinta ibadah? Pendidikan itu bukan supaya ia belajar beribadah karena takut kepadamu, tapi pendidikan sesungguhnya ialah bagaimana agar ia mencintai ibadah tersebut.
Lalu kubiarkan dia merenungkan apa yang barusan diperbuatnya dan aku bergegas menghampiri abdullah. Alangkah malang nasib si kecil yang diperlakukan sebagai orang dewasa oleh ayahnya. Kudekap dia di dadaku. Aku berlindung kepada Allah bila ia sampai membenci rumah-rumah Allah.

Seketika itu pula ia kuajak bermain hingga kesedihannya sirna, lalu kutanya dia tentang hal paling indah yang dilihatnya di masjid. Serta merta terungkaplah rahasia hatinya dan ia mulang menggambarkan masjid dengan bahwa kanak-kanaknya. Ia amat terpesona dengan penampilan sang khatib tatkala berkhutbah, dan alangkah inginnya jika suatu saat ia berkhutbah di depan orang-orang seperti itu. Akan tetapi ia tetap merasa aneh dengan sikap ayahnya yang bersikeras agar dirinya diam dan tidak mau berbicara kepadanya atau menjawab pertanyaannya. Memang wajarlah jika ia merasa aneh.

Ayahnya sebenarnya tahu semua hal tentang pendidikan anak, akan tetapi ia kehilangan suatu hal yang ppaling penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan orang yang tergesa-gesa dan kurang matang dalam berindak. Ia lelaki yang emosional, tidak menangani sesuatu sesuai dengan kenyataannya dan tidak memberikan waktu yang cukup dalam mengajari sesuatu. Ia tak sabar dengan pahitnya belajar dan tak memahami bahwa seseorang harus melalui jembatan kekeliruan sebelum sampai di bumi kebenaran, seakan-akan ia diciptakan langsung sempurna begitu saja dan tidak pernah keliru sedikitpun dalam hidupnya.

----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai kisah inspirasi pengalaman Kesembilan pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU

Nantikan esok hari pengalaman Kesepuluh yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini

Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...

Monday, May 8, 2017

Sampai-sampai motivasi mendapat pahala mengalahkan motivasi-motivasi lainnya.




Pahala adalah motivator paling bermanfaat yang tak pernah kehilangan cahayanya. Karenanya, aku amat bersemangat saat mengingatkan anak-anakku akan pahala yang besar dari Allah bagi mereka yang shalat. Hal inilah yang menjadikan usahaku sukses dengan mudah, alhamdulillah....

Rencanaku untuk membiasakan anak-anak rajin shalat adalah sejak dini. Anakku yang masih berusia dua tahun takkan kularang jika ia duduk di sampingku saat aku shalat, bahkan aku akan meluaskan tempat untuknya, atau menggelarkan sajadah khusus baginya. Kadang-kadang ia kuajak dengan cara yang enak, “maukah kamu shalat bersamaku?” atau “mari kita shalat.” Kadang ia mau kuajak shalat, kadang ia malah pergi bermain, namun kubiarkan ia berbuat semaunya karena ia masih kecil.
Aku melihat sebagian anakku yang masih kelas dua SD bagaimana ia belajar tata cara shalat bersama guru dan teman-teman sekelas. Kudapati bahwa ia pulang ke rumah dengan gembira karena telah belajar tata cara shalat yang benar. Saat itulah aku memainkan peranku di rumah sebagai ‘ibunya’ untuk menyempurnakan apa yang telah ia pelajari di sekolah. Kuminta dia untuk shalat dengan suara lantang (Jahr) agar aku dapat membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan atau gerakan.
Setelah aku yakin bahwa anakku tahu bagaimana tata cara wudhu, pembatal-pembatalnya, tata cara shalat dan apa yang membatalkannya; mulailah tahap permantauan.

Jika kulihat ia shalat, aku bersyukur kepada Allah, namun jika aku tidak melihatnya shalat, dia kutanya, “Kamu Sudah shalat?” sembari terus memperhatikannya dan menjelaskan kepadanya akan besarnya pahala disisi Allah, dan bahwa sanya Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya. Allah berfirman,
Tidaklah dia mengetahui bahwa Allah itu meliahat” (QS. Al-Alaq: 14)
Itu semua agar ia tak shalat karena takut kepadaku. Atau sekedar menyenangkan hatiku, akan tetapi shalatnya benar karena Allah swt. Juga agar aku tidak memojokkanya untuk berdusta kalau memang ternyata ia belum shalat, hingga dengan begitu ia terhindar dari dosa besar karena berdusta.
Biasanya aku berkata padanya, “amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti adalah shalat. Kalau shalatnya baik, amalan lainnya akan baik. Tapi kalau shalatnya rusak, amalan lainnya akan rusak.” Maka dia jadi lebih perhatian terhadap shalatnya agar amalan lainnya tidak rusak.
Aku memandang bahwa anak-anak ketika dibiasakan shalat setelah berumur tujuh tahun, kadang tidak tertarik dengan iming-iming materi  meski setiap hari ia makan permen dan berbagai mainan penuh sesak mengisi rumah, akan tetapi ketika ia kuiming-imingi dengan apa yang lebih bernilai dari dunia agar hatinya terikat dengan akhirat, kemudian ia bermal demi mendapat ridha ilahi, itulah ‘pahala’ yang sungguh ajaib pengaruhnya. Aku telah merasakannya secara langsung dalam banyak hal.
Contohnya, ketika kukatakan pada puteriku, “singkirkan barang ini dari jalan agar Allah memberimu phala yang banyak,” , ia pun bergegas melaksanakan perintahku, namun ketika kukatakan kepadanya, “singkirkan barang ini dari sini agar rumah kita nampak bersih dan rapi,” maka ia menjawab, “yang meletakkan di sini adalah si Fulanah, bukan aku, suruh saja dia yang menyingkirkan.” Subhanallah.
Kesimpulannya, anak-anak adalah ibarat tanaman, kalau kita rawat dan kita perhatikan sejak kecil ia akan sukses , namun jika jika kita biarkan dan sia-siakan sejak kecil, ia akan rusak dan sulit dibenahi setelah itu, kemudian akhirnya kita kebingungan mencari solusi untuk membenahinya.!
---------------------------------------
Fatwa
Tanya: Ketika anak mulai diperintahkan untuk shalat, apakah yang dimaksud dengan tujuh tahun itu ketiak telah genap berusia enam tahun dan masuk tahun ketujuh, ataukah ketika genap berumur tujuh, ataukan ketika genap berumur tujuh tahun dan masuk ke delapan?
Jawab: jika si anak telah mencapai tahun ke tujuh, maka ia diperintahkan oleh orang tunya/pengasuhnya untuk shalat agar terbiasa. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Al –Hakim , bahwa Nabi sawa bersaabda, “perintahkanlah anak-anakmu  untuk shalat saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat saat berumur sepuluh tahun, dia pisahkan ranjang mereka” dari sini kita ketahui bahwa yang dimaksud iaalah genap berumur tuh tahu, bukan masuk ke tujuh”( FATAWA al Lajnah ad Daimah (6/26)


----------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
Sudah selesai kisah inspirasi pengalaman Kedelapan pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU
Nantikan esok hari pengalaman kesembilan yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini
Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...

Jangan memukulnya sebelum umurnya 10 tahun



Aku tidaklah bertanggung jawab sendirian dalam membiasakan puteriku rajin shalat, akan tetap dibantu oleh suamiku. Kukatakan pada puteriku yang telah genap berumur tujuh tahun, 

Allah kelak akan memasukkanmu ke dalam jannah – insya Allah dan kamu akan mendapat semua makanan enak dan permen yang kammu inginkan. Allah telah menjadikan kita seorang muslim dan menjadikan kita umat Rasulullah Muhammad saw, kerenanya kita wajib mencintai Allah dan rasul-Nya saw. Kalau kita memang mencintai Allah, maka kita harus shalat dan berpuasa karena Allah supaya dia mencintai kita dan memasukkan kita ke dalam jannah-Nya”

Aku mengucapkan kata-kata ini terus-menerus.

Kadang kala dia tersibukkan dari shalat dan aku marah kepada dan hendak memukulnya saat umurnya belum genap sepuluh tahun, namun kusabarkan diriku dan kukatakan pada hatiku, “sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar
Sekarang, puteriku telah berusia sepuluh tahun. Segala puji bagi Allah yang telah menolongku dalam membiasakannya shalat lima waktu. Aku juga tak lupa atas jasa besar suamiku yang telah membantuku banyak sekali dalam hal ini.

---------------------------------
Imam Ahmad ra berkat,
“Jangan samapi berjumpa dengan Allah sedang engkau tak menghargai Islam sedikitpun, sesungguhnya kadar islam di hatimu sebanding dengan kadar shalatmu”.

----------------------------------------------------------

Sudah selesai kisah inspirasi pengalaman Ketujuh pada buku yang berjudul "AGAR ANAKMU SHALAT SELALU
Nantikan esok hari pengalaman kedelapan yang di tulis oleh orang tua yang beriman pada buku ini yang akan saya posting.

Kembali kepada pengantar untuk melihat pengalaman yang lain di sini
Bagi pembaca sekalian yang ingin melihat blog ini tetap bisa eksis, Tolong bantu share artikel-artikel saya. bisa dengan cara membagikan di Facebook, Tweeter, BBM dan sebagainya.

Juga bagi yang ingin membantu saudara, sahabat, teman, anak, dan sebagainya yang masih sekolah ataupun yang sudah kuliah dan ingin mencari materi makalah anda dapat share postingan saya tentang makalah.

Semoga kehadiran MNS dapat bermanfaat bagi penghuni dunia maya... amin...