Sunday, April 30, 2017

Shalat dapat menolong semua hajat kita



Apabila Rasulullah mendapat kesusahan dan sesuatu yang menyedihkan, maka beliau akan segera menuju shalat.
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Hudzaifah ra, bahwasanya apabila Rasulullah sedang tertimpa suatu kesusahan, maka beliau mengerjakan shalat. Di dalam riwayat ,ain, apabila tertimpa kesusahan atau kesedihan, maka beliau mengerjakan shalat.
Shalat adalah meminta syafaat kepada Allah swt dalam rangka menyelesaikan urusan dan sebagai jalan menuju kepada-Nya dalam rangka keluar dari kesulitan. Dari sini, maka disyariatkan agar shalat Qadhaul Hajah (shalat Hajat). Tentang shalat ini, Imam Ad-Dahlawi berkata, “Pada asalnya, shalat Hajat merupakan harapan dan permintaan manusia terhadap suatu kebutuhannya yang diyakini akan melihat pertolongan dari selain Allah swt, sehingga dia meninggalkan tauhid Isti’anah. Oleh karena itu, bagi mereka disyariatkan shalat dan berdoa untuk menghindar dari keburukan ini, kemudian dengan adanya sebuah kebutuhan itu, maka menjadi penekanan terhadap dirinya dengan cara berbuat baik.”
Dari Abdullah bin Abu Auf Ra, dia berkata, “Rasulullah bersabda, barangsiapa memiliki hajat kepada Allah atau kepada seorang anak Adam, hendaklah dia berwudhu dan memperbagus wudhunya serta shalat sebanyak dua rakaat... kemudian memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Saw, .. kemudian Ucapkanlah:

Meminta Syafaat dengan Shalat











Tidak ada sesembahan kecuali Allah yang Maha lembut dan maha Mulia... Maha suci Allah, Rabb Al-Arsy yang agung ... segala puji milik Allah, Rabb semesta alam ... Aku memohon kepada Mu sebab-sebab datangnya rahmat-Mu dan ampunan-Mu serta memperoleh segala kebaikan dan keselamatan dari seluruh dosa. Janganlah engkau biarkan satu dosapun dariku melainkan Engkau mengampunya, tidak ada kesusahan satupun melainkan Engkau mudahkan, tidak ada kebutuhan yang mengharap keridhaan melainkan Engkau ijabahi, wahai Dzat yang maha penyayang atas segalanya.” (HR. At-Tirmidzi)
Disebutkan di dalam sebuah riwayat Ibnu majjah: “kemudian beliau Saw Bertanya tentang apa saja dari perkara dunia akhirat, kerena sesungguhnya dia Maha Kuasa untuk menentukan....”(Hr. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Di sana terdapat ungkapan lain untuk shalat hajat, mungkin khusus untuk hal-hal ang saangat penting lagi besar dan kebutuhan yang agung.
Ibnu Mas’ud ra. Meriwayatkan dari Nabi saw beliau bersabda, “engkau shalat di malam hari atau di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Engkau duduk tasyahhud di antara dua rakaat. Apabila engkau duduk tasyahhud di akhir shalatmu, maka memujilah kepada Allah saw dan bershalawatlah atas Nabi saw serta bacalah fathatul Kitab di waktu engkau sedang sujud sebanyak tujuh kali ditambah dengan ayat kursi sebanyak tujuh kali, kemudian katakan:






“Tidak ada sesembahan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan dia berkuasa atas segala sesuatu.
Sebanyak tujuh kali lalu Ucapkan:









“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu tempat yang mulia dari Arsy-Mu, rahmat yang tiada tara dari kitab-Mu, kemuliaan-Mu yang tinggi, nama-Mu yang agung, dan kalimat-Mu yang sempurna”.
Setelah itu, maka mintalah hajatmu, angkatlah kepalamu, dan ucapkan salam ke kanan dan ke kiri.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Orang-orang bodoh tidak mengetahuinya, sebab mereka berdoa dengannya, lalu mereka diperkenankan.”
Al-Hakim meriwayatkan, dia berkata, “Ahmad bin Harb berkata, ‘Aku telah mencobanya dan aku mendapatkannya adalah benar’,”
Ibrahim bin Ali Ad-Dibala berkata, “Akut telah mencobanya dan Aku mendapatkannya Adalah benar”
Al-Hakim berkata, “Aku telah mencobanya dan aku mendapatkannya adalah Benar”
Amir bin Khaddasi beriwayatkan sendirian dan dia teroercaya dan Tsiqah.

Thursday, April 27, 2017

Inilah Bukti Kemuliaan Orang Berilmu daripada Ahli Ibadah



 
Dihikayatkan ada seorang wanita ahli ibadah yang cantik jelita. Kepada siapa saja yang ingin menikahinya, dia mengajukan tiga syarat.

Perlu kita ketahui bahwa syarat ini bertentangan dengan Sunnah. Pada zaman Rasulullah saw ada beberapa yang berkata, “Saya akan berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang lain berkata, “Saya akan bangun (malam) dan tidak akan tidur.” Orang yang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikahi para wanita.” Setelah mendengarnya Nabi saw menyatakan bahwa beliau berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur, dan menikahi wanita. Kemudian beliau bersabda, “Inilah sunnahku. Berangsiapa tidak suka pada sunahku, bukanlah termasuk golonganku.”

Ketiga syarat itu yaitu:

Pertama, hendaklah dia melaksanakan puasa sepanjang mas.

Kedua, hendaklah dia bangun bertahajud sepanjang malam.

Ketiga, hendaklah dia mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam.

Seorang pemuda yang brilian memberanikan diri untuk melamarnya dan menikahinya. Dia menyatakan sanggup untuk memenuhi syarat yang diajukannya. Dia pun menikahinya.
 
Beberapa hari kemudian, wanita itu menuntut pembatalan pernikahannya, sebab menurutnya laki-laki yang menjadi suaminya tidak memenuhi syarat-syarat yang diajukannya. Di pengadilan  sang suami membela diri dengan berkata, “Saya telah memenuhi semuanya. Saya selalu mengerjakan shalat Isya’ dan Shalat Fajar berjamaa;  sementara Rasulullah saw telah bersaabda, “barang siapa mengerjakan shalat Isya’ berjamaah, maka seakan-akan dia bangun separu malam. 

Dan barangsiapa mengerjakan sholat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia shalat semalam suntuk.”(diriwayatkan oleh Muslim) Kemudian saya pun berpuasa selama bulan Ramadhan dan melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan syawwal, sementara Nabi saw bersabda, “barang siapa berpuasa Ramadhan dan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka itu sama dengan puasa sepanjang masa.” (diriwayatkan Oleh Muslim) dan setiap malam saya selalu membaca surat Al-Ikhlash tiga kali, dan abi saw telah bersabda, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, Sungguh itu menyamai sepertiga Al-Qur’an,”(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Semoga kita dapat dapat mengambil pelajaran dari hikayat ini, sehingga kita dapat bangun sebelum waktu pagi telah datang, dan kita dapat melaksanakan shalat subuh berjamaah.

Wednesday, April 26, 2017

Shalat merupakan Solusi Bagi Seorang Muslim dari Kesulitan



Sesungguhnya dalam ibadah shalat terdapat jawaban atas insting manusia yang beraneka ragam. Yang berupa naluri kebutuhan, kelemahan, dan permintaa, serta penyerahan dan peneguhan diri. Naluri untuk berdoa dan bermunajat, menyerahkan diri pada Dzat yang Mahaperkasa dan Mahakaya, yang Mahamulia, dan yang Maha Pemberi, yang Maha Pemberi dan yang Maha Pengasih, yang Maha Lembut dan Mahakeras, yang Maha Pemberi dan Maha Pencegah, yang Maha Mendengar dan Maha Menjawab.

Shalat akan menjadi semakin dekat kepada seorang muslim, menjadi tempat perlindungan yang paling banyak, dan shalat lebih cepat memberi bantuan dan pertolongan, shalat lebih murah hati, lebih pengasih, lebih penyayang dari pangkuan seorang ibu yang lebih Pengasih atas anaknya yang lari, si yatim yang hilang, dan si lemah yang tak berdaya. Setiap kali dancam dan setiap kali ditimpa rasa takut atau diterpa haus dan lapar, dia bergegas ke arah ibunya dan menghempaskan dirinya ke pangkuan ibunya dengan penuh kerendahan diri.

Demikianlah shalat, ia bisa menjadi tempat berpijak dan berlindung seorang muslim dan menjadi urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang meneguhkannya. Tali yang terbentang antara dia dan Rabb-nya yang menjadi tempat bergantng. Dia adalah gizi bagi ruh, penyejuk jiwa obat bagi luka, penolong bagi yang lemah, rasa aman bagi yang takut, kekuatan bagi yang lemah, dan senjata bagi orang tak bersenjata1. Allah berfirman, “Hai oorang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (Kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Shalat, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang saabar. “Dan dalam ayat yang lain, “dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Imam Ibnu Katsir berkata, “Mintalah pertolongan dalam mencari akhirat dengan bersabar dalam mengerjakan kwajiban dan menegakkan shalat”. Beliau Juga berkata, “sesungguhnya shalat merupakan pertolongan paling agung untuk tetap teguh dalam menghadapi masalah.”

Allah berfirman, berbicara dengan kekasih-Nya, “Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)2, dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.

Allah memerintahkan Rasulullah agar menegakkan shalat dan dzikir yang dadanya terasa sesak disebabkan oleh perkataan musuh-musuh islam. Karena di dalam shalat ada kelapangan bagi jiwa dan solusi atas segala kesulitan. Demikianlah tuntunan Rasulullah, jika beliau dihadapkan kepada kesulitan, beliau akan segera bangkit guna mendiri shalat. Hudzaifah berkata, “Aku pernah mmendatangi Rasulullah pada malang Perang Ahzab, ternyata beliau segera menegakkan shalat.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib meriwaatkan, “Sungguh, pada malam Perang badar semua orang tertidur, selain Rasulullah. Beliau terus menegakkan shalat di bawah sebuah pohon, beliau terus berdoa hingga tiba waaktu shubuh.”

Dan diriwayatkan bahwa Tsabit berkata, “jika Nabi Saw ditimpa urusaan pelik, beliau memanggil keluarganya seraya berkata, “Dirikanlah Shalat... dirikanlah shalat’.” Tasbit berkata, “Adalah para Nabi, apabila mereka ditimpa permasalahan yang sulit, mereka segera menegakkan shalat.”

Dari Abu Darda, beliau berkata, “Jika angin bertiup kencang, maka tempat berlindung beliau ialah masjid hingga angin tersebut tenang. Apabila dilangit terjadi gerhana matahari atau bulan, maka tempat kembali Rasulullah mendirikan shalat ingga langit kembali terang.”

Demikian pula kondisi para sahabat yang mulia. An-nadhr meriwayatkan, bahwa suasana sangat gelap pernah terjadi pada masa Anas. Maka aku datang kepadanya dan berkata, “Wahai Abu Hamzah, apakah kamu pernah ditimpa hal seperti ini pada masa Rasulullah?” Lalu beliau berkata, “Kita berlindung kepada Allah, sekiranya angin ini bertiup kencang, mari kita bergegas menuju masjid! Karena aku cemas jika kiamat benar-benar terjadi.”

Demikianlah kondisi para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik (Tabi’in) pada setiap generasi. Dalam bermuamalah dengan shalat, mereka diibaratkan tentara yang menemukan pedangnya, orang kaya bersama harta kekayaannya, bagaikan anak kecil dengan rengekan dan tangisannya, dan layaknya seorang bayi dengan kasih sayang dari ibunya. Bahkan para sahabat dan tabi’in semakin bertambah teguh dan yakin dengan shalat mereka. Lebih dari itu mereka menjadikan shalat sebagai pegangan kuat melebihi perumpamaan tadi. Sehingga, shalat adalah kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Jika mereka dikejar, dibuntuti, dihadang musuh,  atau mereka tidak juga mendapat kemenangan, atau mereka dihadapkan pada permasalahan pelik, maka mereka akan segera kembali pada shalat.

Kenyataan seperti itu dialami pulua oleh para imam, para pemimpin dan panglima agama dari masa ke masa. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengisahkan, bahwa jika beliau mendapat kesulitan dalam memahi makna ayat atau ada ilmu yang belum diketahui, beliau segera menuju salah satu masjid yang jauh dari keramaian, lalu beliau berdiri untuk menegakkan shalat, menundukkan wajahnya ke tanah, dan memanjang sujudnya sera berdoa:

Wahai Dzat yang mengajari Ibrahim, Ajarilah aku!”

Beliau berdoa dengan sepenuh hati, sangat merendah kepa Allah, dan beliau berbangga diri tumbuh menjadi seorang peminta yang telah diwarisi secara turun temurun. 

Terdengar beliau berkata dalam sebagian senandung munajatnya:

Aku adalah seorang peminta-minta, Putra dari Peminta-minta,

Demikianlah kondisi ayah dan kakekku.3

Shalat bukan hanya sebuah kewajiban yang harus ditunaikan ttepat pada waktunya, bukan pula ibadah yang hanya dikerjakan dengan harapan terlepas dari beban kewajiban kepada Allah, karena shalat merupakan kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi selain itu, shalat adalah perisaai dan senjata bagi setiap muslim, kunci untuk membuka segala macam gembok dan menyingkap segala tabir rahasia. Untuk menghilangkan rasa takut ada shalat, untuk meminta hujan ada shalat, dan ketika binatang ternak mati dan jalan-jalan terputus ada shalat. Dan untuk bertobatpun disunahkan shalat tobat. Dari Abu Bakar, Rasulullah bersabda:

Tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu berdiri untuk menegakkan shalat dua rakaat, kemudia dia memohon ampun atas dosa-dosanya, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (Hadits Shahih)

Ketika terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari juga disyariatkan untuk shalat sunnah. Rasulullah bersaabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, tapi keduanya adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah yang membuat para hamba-Nya takut. Oleh karena itu jika kalian melihatnya, shalat dan berdoalah hingga tersingkap semua apa yang terdapat di hadapan kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, “maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan shalatlah, serta bersedekahlah”

Apabila seorang hamba ingin dipenuhi kebutuhannya atau diberi jalan keluar dari masalah yang dihadapinya, maka sudah seyogiyanya bagi seorang hamba untuk menghadap kepada Allah sambil berdoa dengan mengerjakan shalat dua rakaat. Dan salah satu dari adab berdoa yaitu bersegera mengerjakan amal shalih setelah selesai berdoa.

Dari utsman bin hanif, bahwasanya ada seorang buta datang menemui Rasulullah, lalu dia berkata, “doakan aku agar Allah memberi kesembuhan pada mataku!” Rasulullah menjawab, “jika kamu mau, aku akhirkan doaku (tidak berdoa) dan itu yang terbaik bagimu, dan jika kamu mau, aku akan mendoakanmu. “orang tersebut berkata, “koakanlah!” maka Rasulullah menyuruhnya untuk berwudhu kemudian shalat dua rakaat dan berdoa. (Hadits Shahih).

Dan Senantiasa memakmurkan Rumah Allah dengan shalat dan dzikir merupakan salah satu sebab terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita. Abu Hurairah berkata, “sesungguhnya masjid-masjid itu memiliki tiang-tiang dan orang-orang yang memakmurkannya, itulah yang menjadi tiang-tiangnya. Mereka juga mempunyai teman duduk dari para malaikan. Jika mereka tidak hadir, maka malaikat akan menanyakannya dan jika mereka sakit, maka malaikat akan menjenguknya dan pula jika mereka mendapat kesulitan, maka malaikat akan membantunya.” (Hadits Shahih)



  1. Al-Arkanul Arba’ah, Karya Imam An-nadawi, 29-30 dengan sedikit perubahan.  
  2. Maksudnya adalah bersama orang-orang yang shalat. Allah mengungkapkan shalat dengan menyebutkan sebagian dari gerakannya yaitu sujud.
  3. Al-Arkanu  Al-Arba’ah, Hal. 80.

Monday, April 24, 2017

Shalat adalah Wasiat Terahir Rasulullah



Rasulullah tidak memiliki banyak waktu untuk berwasiat ketika saat perpisahannya dengan dunia telah dekat. Ketika beliau merasakan semakin sakitnya skaratul maut, beliau berwasiat dengan suara yang sangat lembut. Dari Ali, beliau berkata, “Perkataan akhir Rasulullah yakni shalat, shalat, dan bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits Shahih)
Dari Annasbin Malik, beliau berkata, “Wasiat Rasulullah yang terakhir yang mana beliau kesulitan menggerakkan lidahnya yaitu Shalat, shalat, dan bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits Shahih)

Ya Allah Ya Karim, nasehat terakhir yang keluar dari mulut Rasulullah adalah tentang shalat, bukan yang lain, bukan menyuruh kumpulkan harta, bukan menyuruh untuk jadi penceramah, bukan menyuruh untuk menjadi pejabat, dan yang lainnya, akan tetapi agar shalat di tunaikan.
Kita berpaling sebentar mengenang detik-detik wafatnya Rasulullah.
Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi buru-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya “Wahai umatku... kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya, maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya
Ku wariskan dua perkara pada kalian yakkni Al-Qur’an dan Sunnahku, barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersam-samakukata Beliau.

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang dan menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya, Usman menahan nafas panjang, Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, sudah tiba saatnya. Rasulullah akan meninggalkan kita semua” Keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia ini. Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik demi detik berlalu.

Matahari makin tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya, tiba-tiba dari luar pintu terdengan ketukan dan salam. “Bolehkan saya masuk?” tanyanya, Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, Ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah “Siapakah Itu Wahai anakku?”, 

Kamudian Fatimah menjawab “Tak tahu Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya”. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan seolah-olah seluruh sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya. ”Ketahuilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di Dunia. Dialah MALAIKAT MAUT” Kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakan tangisnya, malaikat maut telah datang menghampiri, Rasulullahpun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya, kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan penghuni langit, “Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah, “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya, “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?Tanya Rasul. Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kapadaku: “kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata Jibril menyakinkan.

Detik-detik wafatnya Rasulullah semakin dekat, saatnya Izroil melakukan tugasnya, Perlahan-lahan Ruh Rasulullah ditarik, Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang.

Jibril, betapa sakit sakartul maut ini....” Perlahan desiran suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya sementara Ali yang ada disamping menunduk semakin dalam, dan jibril pun memalingkan muka.

jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu jibril?” Tanya Rasul pada malaikat pengantar wahyu itu,.

siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajalnya?” Kata Jibril.

Sesaat kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi,

Ya Allah, dahsyat sekali maut ini timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Kata Rasulullah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya, “Uushikum bis Shalati, wa maa malakat aimanukum”. “Aku berwasiat kepadamu dengan shalat, dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu, . diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, ssahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan ali kembali mendekatkan telinganya kebibir Rasulullah yang mulai kebiruan “Ummatii, Ummatii, Ummatii” . dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan itu.

Mampukan kita mencintainya seperti Dia mencintai kita.

Allahumma Sholli Ala Muhammad, betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Coba kita bayangkan, andai kata kita berada pada ketika beliau berwasiat itu, Muhmmad Nabi yang kita yakini kebenarannya, Muhammad  Rasul yang sangat mulia akhlaknya, yang sangat bersahaja, sangat berwibawa, orang yang mengenalkan kebenaran, yang membuktikan kejujuran dan keadilan itu adalah hak, orang yang paling mengasihi anak yatim, orang yang sangat tampat dan bijaksana, yang selalu mendamaikan hati bagi siapa saja yang berada disekitarnya, orang yang sangat kita cintai, kini dia telah berbaring lunglai dengan penyakitnya, kita menatapnya dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta yang sangat mendalam. tentunya hati kita gundah dan sedih melihat orang seperti beliau merasakan sakit.

Kemudian dengan suara yang kelihatannya sangat sulit untuk menggerakan lidahnya mengatakan wasiatnya agar shalat dapat didirikan.

Bagaimana mungkin seseorang mengatakan mencintai Allah dan Rasulnya, akan tetapi apa yang sangat dianjurkan oleh Rasulnya tidak dikerjakan, bahkan wasiat terakhir Rasulullah dengan suara yang sangat sulit untuk diucapkan. Beliau tidak ingin umatnya untuk meninggalkan shalat.

Rasulullah itu sangat pemurah, Rasulullah itu sangat lembut, sangat baik akhlaknya, sangat sabar, sangat zuhud, sangat taat, sangat ramah, sangat jujur, dan semuanya sifat-sikap yang baik-baik itu dimiliki oleh Rasulullah dalam menyempurnakan kebaikan para Nabi sebagai khatamu Nabiyin, namun Kita saat ini tidak mungkin dapat menyamai semua tingkah laku mulia beliau, akan tetapi satu perbuatan takwa beliau dapat kita ikuti, baik apa yang beliau ucapkan dan apa yang beliau perbuat, persis sama kalau kita shalat dengan benar.

Ayo kita semua agar dapat mengerjakan shalat, yang sangat dianjurkan oleh manusia yang sangat kita cintai dan  yang sangat Allah cintai. Kita buktikan rasa cinta kita dengan melaksanakan wasiatnya yang terakhir untuk umatnya dalam pembuktian cinta kita kepada Beliau. Sebagaimana Allah juga menginginkan untuk kita agar dapat mengikuti Dia. Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Semoga kita tidak hanya jadi orang senang memuji, menyebut Nama Beliau, akan tetapi apa yang diperintahkan, apa yang di nasehatkan dan wasiat-wasiat Beliau tidak kita laksanakan.

semoga kita menjadi muslim yang mencintai dan melaksanakan ajaran islam sebagaimana yang telah di contohkan oleh Beliau. 


Kunjungi juga blog saya yang lain: 

DESA SAMPANAHAN

MTS. SA. MIFTAHUL KHAIR SAMPANAHAN