Rasulullah tidak memiliki banyak waktu untuk berwasiat ketika
saat perpisahannya dengan dunia telah dekat. Ketika beliau merasakan semakin
sakitnya skaratul maut, beliau berwasiat dengan suara yang sangat lembut. Dari
Ali, beliau berkata, “Perkataan akhir Rasulullah yakni shalat, shalat, dan
bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits Shahih)
Dari Annasbin Malik, beliau berkata, “Wasiat Rasulullah
yang terakhir yang mana beliau kesulitan menggerakkan lidahnya yaitu Shalat,
shalat, dan bertakwalah kepada Allah atas apa yang kalian miliki.” (Hadits
Shahih)
Ya Allah Ya Karim, nasehat terakhir yang keluar dari mulut
Rasulullah adalah tentang shalat, bukan yang lain, bukan menyuruh kumpulkan
harta, bukan menyuruh untuk jadi penceramah, bukan menyuruh untuk menjadi
pejabat, dan yang lainnya, akan tetapi agar shalat di tunaikan.
Kita berpaling sebentar mengenang detik-detik wafatnya
Rasulullah.
Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta
yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi buru-burung
gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah
terakhirnya “Wahai umatku... kita semua ada dalam kekuasaan
Allah dan cinta kasih-Nya, maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya”
“Ku wariskan dua perkara pada kalian yakkni
Al-Qur’an dan Sunnahku, barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau
mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga
bersam-samaku”
kata Beliau.
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang
tenang dan menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,
Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya, Usman menahan
nafas panjang, Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat
itu telah datang, sudah tiba saatnya. Rasulullah akan meninggalkan kita semua”
Keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di
dunia ini. Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap
Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Disaat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan
menahan detik demi detik berlalu.
Matahari makin tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih
tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas
tidurnya, tiba-tiba dari luar pintu terdengan ketukan dan salam. “Bolehkan
saya masuk?” tanyanya, Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf,
Ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah “Siapakah Itu Wahai anakku?”,
Kamudian Fatimah menjawab “Tak
tahu Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya”. Lalu Rasulullah
menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan seolah-olah seluruh
sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya. ”Ketahuilah nak, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di Dunia.
Dialah MALAIKAT MAUT” Kata Rasulullah. Fatimah menahan
ledakan tangisnya, malaikat maut telah datang menghampiri, Rasulullahpun
menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya, kemudian dipanggilah jibril yang
sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan
penghuni langit, “Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan
Allah?” tanya Rasulullah dengan suara yang
amat lemah, “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti
ruhmu, semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi
semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh
kecemasan dan tanda tanya, “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya
Jibril lagi. “kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” Tanya Rasul. Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku
pernah mendengar Allah berfirman kapadaku: “kuharamkan syurga bagi siapa
saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata Jibril menyakinkan.
Detik-detik wafatnya Rasulullah semakin dekat, saatnya Izroil
melakukan tugasnya, Perlahan-lahan Ruh Rasulullah ditarik, Nampak seluruh tubuh
Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakartul maut ini....” Perlahan desiran suara Rasulullah
mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya sementara Ali yang ada
disamping menunduk semakin dalam, dan jibril pun memalingkan muka.
“jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan
wajahmu jibril?”
Tanya Rasul pada malaikat pengantar wahyu itu,.
“siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut
ajalnya?” Kata Jibril.
Sesaat kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit
yang tidak tertahankan lagi,
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini timpakan saja
semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Kata Rasulullah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah
tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali
pun segera mendekatkan telinganya, “Uushikum bis Shalati, wa maa
malakat aimanukum”.
“Aku berwasiat kepadamu dengan shalat, dan peliharalah orang-orang lemah
diantaramu, . diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, ssahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan ali kembali mendekatkan
telinganya kebibir Rasulullah yang mulai kebiruan “Ummatii,
Ummatii, Ummatii”
. dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan itu.
Mampukan kita mencintainya seperti Dia mencintai kita.
Allahumma Sholli Ala Muhammad, betapa cintanya Rasulullah
kepada kita.
Coba kita bayangkan, andai kata kita berada pada ketika beliau
berwasiat itu, Muhmmad Nabi yang kita yakini kebenarannya, Muhammad Rasul yang sangat mulia akhlaknya, yang
sangat bersahaja, sangat berwibawa, orang yang mengenalkan kebenaran, yang
membuktikan kejujuran dan keadilan itu adalah hak, orang yang paling mengasihi
anak yatim, orang yang sangat tampat dan bijaksana, yang selalu mendamaikan
hati bagi siapa saja yang berada disekitarnya, orang yang sangat kita cintai,
kini dia telah berbaring lunglai dengan penyakitnya, kita menatapnya dengan
penuh kasih sayang dan rasa cinta yang sangat mendalam. tentunya hati kita
gundah dan sedih melihat orang seperti beliau merasakan sakit.
Kemudian dengan suara yang kelihatannya sangat sulit untuk
menggerakan lidahnya mengatakan wasiatnya agar shalat dapat didirikan.
Bagaimana mungkin seseorang mengatakan mencintai Allah dan
Rasulnya, akan tetapi apa yang sangat dianjurkan oleh Rasulnya tidak
dikerjakan, bahkan wasiat terakhir Rasulullah dengan suara yang sangat sulit
untuk diucapkan. Beliau tidak ingin umatnya untuk meninggalkan shalat.
Rasulullah itu sangat pemurah, Rasulullah itu sangat lembut,
sangat baik akhlaknya, sangat sabar, sangat zuhud, sangat taat, sangat ramah,
sangat jujur, dan semuanya sifat-sikap yang baik-baik itu dimiliki oleh
Rasulullah dalam menyempurnakan kebaikan para Nabi sebagai khatamu Nabiyin,
namun Kita saat ini tidak mungkin dapat menyamai semua tingkah laku mulia
beliau, akan tetapi satu perbuatan takwa beliau dapat kita ikuti, baik apa yang
beliau ucapkan dan apa yang beliau perbuat, persis sama kalau kita shalat
dengan benar.
Ayo kita semua agar dapat mengerjakan shalat, yang sangat dianjurkan
oleh manusia yang sangat kita cintai dan
yang sangat Allah cintai. Kita buktikan rasa cinta kita dengan
melaksanakan wasiatnya yang terakhir untuk umatnya dalam pembuktian cinta kita
kepada Beliau. Sebagaimana Allah juga menginginkan untuk kita agar dapat
mengikuti Dia. Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)
Semoga kita tidak hanya jadi orang senang memuji,
menyebut Nama Beliau, akan tetapi apa yang diperintahkan, apa yang di
nasehatkan dan wasiat-wasiat Beliau tidak kita laksanakan.
semoga kita menjadi muslim yang mencintai dan melaksanakan ajaran islam sebagaimana yang telah di contohkan oleh Beliau.
Kunjungi juga blog saya yang lain: